Kamis, 24 Januari 2013

PERKEMBANGAN ISLAM DI TIMUR TENGAH DAN BARAT


A.    PERKEMBANGAN ISLAM DI TIMUR TENGAH

1.      Latar Belakang Perkembangan Islam di Timur Tengah
Gagasan atau ide Islamisme yang digelorakan oleh jamaluddin disambut oleh Raja Turki Usmani yang bernama Abd Hamid II (1876-1909) dan juga mendapat sambutan yang baik di negeri-negeri Islam. Akan tetapi setelah Turki Usmani kalah dalam perang dunia pertama dan kekhalifahan dihapuskan oleh Musthofa Kemal seorang tokoh yang mendukung gagasan nasionalisme, rasa kesetiaan kepada Negara kebangsaan.
Di Wilayah Mesir, Syiria, Libanon, Palestina, Hijaz, irak, Afrika Utara Bahrein dan Kuwait, nasionalismenya bangkit dan nasionalisme tersebut terbentuk atas dasar kesamaan bahasa. Dalam penyatuan Negara Arab dibentuk suatu liga yang bemama Liga Arab yang didirikan pada tanggal 12 Maret 1945.Di Asia Tenggara Malaysia, Singapura merdeka tahun 1957 dm Brunai Darussalam merdeka pada tahun 1984. Selain itu, Negara Islam yang dahulunya bersatu dalam Uni Soviet seperti Turkmenia. Uzbekistan, Kirghistan, Khazakhtan Tajikistan dan Azerbaijan dan Bosnia baru merdeka pada tahun 1992.
Memasuki era kontemporer, rezim sa’udiyah tetap berkuasa dan populasi umat Islam  kian meningkat dari masa ke masa. Tercatat bahwa kependudukan muslim Arab saudi mencapai 99% untuk tidak mengatakan bahwa semua beragama Islam. Aliran mazhab yang dominan mereka anut adalah Sunni dengan paham Wahbbiah,disamping itu ada juga Syi’ah dengan populasi yang sangat sedikit, tetapi tetap memberi andil dalam sejarah perkembangan Islam di Arab saudi.

2.      Perkembangan Islam di Timur Tengah
Orang-orang barat yang mengagung-agungkan ilmu pengetahuan saat ini tidak lepas dari pengaaruh ilmuwan muslim pada abad pertengahan dimana pada saat itu umat Islam sedang mengalami kejayaan sementatara orang-orang di Eropa sedang kesulitan (The Dark Age). Peradaban Islam saat itu sedang sangat maju-majunya bahkan pada salah satu artikel yang saya baca "Sebelum Edison menemukan lampu pijar daerah Bagdad saat itu sudah terang benderang oleh kilauan cahaya lampu". Hal ini menunjukkan bahwa disebut itu orang'orang Islam di Timur Tengah mendapakan kejayaannya dimana banyak orang-orang luar Arab yang belajar dan datang silih berganti ke kota Baghdad untuk memeperoleh ilmu pengetahuan yang oleh sebagian orang barat sangat sulit mendapatkan akses di negaranya. Hal ini tentunya berkaitan dengan kebijakan pemerintah, saat itu tengah marak di Eropa dimana ilmu pengetahuan dikekang oleh pemuka agama (pendeta dan paus).
Khalifah Harun Al-Rasyid yang sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan sadar bahwa hanya inilah yang sangat penting untuk membangun peradaban kotanya. HaI ini pula yang membuat Islam khususnya di daerah Baghdad mengalami . Arsitektur kota ini mengalami perkembangan yang  sangat luar biasa dimana banyak bangunan, taman-taman bagus dan perpustkaan guna menampung semua karya pengetahuan senhingga menarik orang barat untuk langusng belajar di Bagdad. Tidak hanya belajar, mereka juga mencatat ulang karya ilmuwan besar Islam dan kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa yang diperuntukkan hgi orang-orang eropa hat ini membuat banyak karya-karya besar ilmuwan Islam yang dijiplak dan dikonsumsi orang-orang eropa untuk membangrm peradabannya. Hal inilah yang tidak diperhatikan oleh khalifah pasca Harun Al-Rasyid.
Faktor lain yang menyebabkan Islam dapta berkembang peasat di Arab Saudi di samping karena dukungan pemeritah juga karena faktor kesejarahan basis umat Islam sejak masa Nabi SAW, juga karena Arab saudi menjadi terminal berbagai informasi pembaruan dan perekmbangan Islam di negara-negara lain, termasuk corak pembaruan dan perekembangan Islam di Indonesia. Ada kaitannya dengan Arab saudi sebagai tempat belajar para ulama Indonesia di masa lalu, masa sekarang.
Dibagian dunia Arab bagian timur yakni daerah-daerah Arab selatan semanjung Arab terutama yaman, yang merupakan satu-satunya wilayah daerah ini yang memeluk Islam secara damai. Mereka rnelanjutkan pola-pola kebudayaan. Menetapnya dengan iradisi yang cukup mapan, sering dengan Bendungan Ma’rib yang terkenal itu yang dibangun pada masa jauh sebelum tahun-tahun masehi.
Bahkan wilayah ini bias dipandang sebagai akar utama tradisi Arab ( kuno) secara keseluruhan. Masyarakatnya yang murni kama Arab eksklusivitas wilayahny tercermin daram arsitektur dan penataan kotanya. Ia memiliki wilayah kebudayaan yang dapat dibedakan dengan mudah dengan semenenjung Arab lainya, terutanya clalam aspek-aspek visual kesenianya, juga ungkapan intelekfual, dan sastra rakyatnya.
Orang-orang barat yang sudah menguasai macam-macam pengetahuan ini kemudian membakar habis buku-buku yang ada di perpustakaan Baghdad. Tidak hanya itu hal ini jugu kemudian merembet pada perkembangan pengetahuan Islam di spanyol dimana mereka juga mulai dikikis oleh orang-orang Kristen yang mulai bangkit. Raja Ferdinand kemudian berkuasa di spanyol dan merombak total kota-kota di spanyol dan mengganti bangunan  Masjid menjadi Gereja Hilangnya bukti-bukti otentik dari peradaban Islam membuat Islam saat ini kesulitan rmtuk berkembang mengingat sebagian besar karya ilmuan muslim yang telah diterjemahkan kedalam bahasa asing. Fenomena yang berkembang saat ini adalah bagaimana orang-orang di Timur Tengah mulai membangrm kembali peradabannya dengan menjadikan Iran sebagai leadernya.

Berkembangnya ilmu pengetahuan dapat membuat negara-negara di Eropa dan  Amerika khawatir akan semakin meluasnya pengaruh hal tersebut. Hal inilah yang kemudian diusahakan oleh orang-orang eropa dan Amerika guna menutup akses ilmu pengetahuan kepada orang-orang Islam.

1.      Studi Islam di Timur Tengah (masa tercipta al-Qur'an dan al-Hadits)
·         . Masa Turunnya al Qur'an dan Sumber al-Haditsa
·         ' Masa Terkodifikasikan al Qur'an
·         Awal terkodifikasikan Hadirs pada masa Umar bin Abdul Aziz
Studi Islam dilakukan oleh umat Islam, para sahabat, tabi’in, tabi’i tabi’i. Pendekatan yang digunakan ialah pendekatan normatif. Agama yaitu untuk menegakkan sendi-sendi agama Islam. Dan keilmuan yang berkembang adalah ilmu bahasa Arab, ulumul quran, dan tafsir al-quran dan ilmu hadist.

2.      Studi Islam di Timur Tengah (Masa Kejayaan lslam)
·         MasaPenerjemahan Buku-Buku Yunani'
·         llmu Pengetahuan menjadi Kebijaksanaan Pemerintah (Harun al-Rasyid dan at-Makmum)
·         Wilayah Islam sangat Kaya' Makmur' dan hidup mewah, banyak didirikan rumah sakit dan madrasah-madrasah
“Studi Islam” dilakukan oleh ilmuwan-ilmuwan Muslim dibawah perhatian. Pendekatan yang digunakan Pendekatan Normatif Agama dan pendekatan keilmuan tertutama Filsafat. Selain itu berkembang  ilmu sejarah dan ilmu eksakta mis, kedokteran, astronorni, dll. Keilmuan yang Berkernbang seperti Ilmu Bahasa Arab, ilmu al-Qur'an dan ilmu tafsir al-Qur’an, Ilmu Hadits, juga ilmu eksakta seperti kedokteran.

3.      Studi Islam di Timrn Tengah ( Masa Kemunduran lslam )
·         Masa Kehancuran Islam
·         Wilayah-wilayah Islam menjadi daerah Jajahan dan objek studi Negara nonIslam
Pada “Studi Islam” di wilayah lslam dilakukan oleh para ulama yang lepas dari perhatian pemerintah karena kelumpuhan potitik, karena pendekatan yang digunakan pendekatan dogmatik dan mengulang-ulang keilmuan agama masa lalu tanpa inovasi. Setelah itu keilmuan yang berkembang Ilmu Syarah dan Ilmu Mukhtashar Kitab.


B.     SEJARAH PERKEMBANGAN STUDI ISLAM DI DUNIA BARAT

1.      Latar Belakang Sejarah Perkembangan Studi Islam di Dunia Barat
Kemajuan perudaban barat dimulai pada Periode Pertengahan (1250-1800M), yang mana peradaban Islam pada periode ini mengalami stagnasi. Sedangkan peradaban barat mengalarni perkembangan yang sangat pesat dari ilmu pengetahuan dan teknologi sampai sekarang ini. Sebenamya perkembangan tesebut banyak dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan Islam. Sebagaimana kita ketahui bahwa Andalusia (Spanyol) pada massa pemerintahan Bani Abbasiyah adalah merupakan salah satu tempat yang paling utama bagi Eropa dalam menyerap peradaban Islam baik dalam bentuk hubungan politik, sosial maupun perekonomian dan peradaban antar negara Salah satu contoh yang kami ambil adalah pemikiran Ibnu Rusyd yang melepaskan belenggu taklid dan menganjurkan kebebasan berfikir.
Dari pemikiran Ibnu Rusyd inilah yang menarik minat orang-orang barat untuk belajar. Diantara pemuda Kristen Empa yang belajar di universitas-universitas Islam di Andalusia, seperti Universitas Codova, Seville, Malaga Granada dan Salamanca Selama mereka belajar di lembaga-lembaga tersebut, mereka aktif menterjemahkan buku-buku karya para ilmuan muslim. Pussat kegiatan terjemahan itu berada di Toledo. Setelah mereka kembali kenegara masing-masing mereka mendirikan sekolah-sekolah dan universitas. Universitas yang pertama mereka dirikan di Eropa pada tahun 1231 Masehi. Jadi sudah jelaslah menunrut kami, bahwa latar belakang berkembanganya Studi Islam di Dunia Barat adalah disebabkan para pelajar barat yang datang ke Jazirah Arabiyah untuk belajar. Disarnping itu juga mereka telah berhasil menterjernahkan karya-karya ilmuan muslim kedalam bahasa latin. Gunakan ini pada akhirnya rnenimbulkan masa pencerahan dan revolusi industri, yang menyebabkan Eropa maju. Dengan demikian Andalusia mempakan sumber-sumber cahaya bagi Eropa, memberikan kepada benua itu manfaat dari ilmu dan budaya Islam selama hampir tiga abad.

2.      Signifikasi Studi Islam di Dunia Barat
Pada dasarnya kebudayaan-kebudayaan kuno dan modern digerakkan oleh komunikasi dan kontak melalui perjalanan, migrasi atau penaklukan. Mereka juga bergerak melalui lukisan, ukiran, monument, peninggalan, buku-buku dan karya seni. Hal ini sepenuhnya benar dalam hal kebudayaan Islam, karena ia dikenal oleh melalui dua saluran pribadi dan penyalinan serta penerjemahan.
Mengenai pengertian Studi Islam, dikalangan para ahli masih terdapat perdebatan tentang Studi Islam (agama) dimasukkan kedalam ilmu pengetahuan. Menurut Amin Abdullah Islam kalau dilihat dari normativitas kurang pas untuk dikatakan sebagai disiplin ilmu karena normativitas studi Islam agaknya terbebani oleh misi keagamaan yang bersifat memihah romantis, dan apologis, sehingga kadar muatan analisis. kritis, metodologis, histories, empiris, terutama dalam menelaah teks-teks atau naskah-naskah keagamaan produk sejarah terdahulu kurang begtu ditonjolkan. Sedangkan untuk Studi Islam dilihat dari Historisitas tampaknya tidaklah salah
Inilah Islam kalau dilihat secara historisitas yakni Islam dalam arti yang dipraktikkan oleh manusia serta tumbuh dan berkernbang dalam sejarah kehidupan manusiA maka Islam dapat dikatakan sebagai sebuah disipiin ilmu, yakni ilmu keIslaman atau Islam Studies.

3.      Islam Sebagai Sains di Dunia Barat
Pada dasarnya Studi Islam dan Sains Islam ada perbedaan dan persamaan-persarnaan studi dan sains adalah sama-sama objek kaliannya adalah ilmu pengetahuan agama. Sedangkan perbedaannya, Studi Islam adalah suatu ilmu pengetahuan yang dirumuskan dari ajaran Islam yang dipraktekkan dalam sejarah dan kehidupan manusia. Sedangkan Sains Islam adalah suatu ilmu pengetahuan yang mencakup bcrbagai pengetahuan modern seperti kedokteran, astronomi, matematika, fisika dan sebagainya yang dibangun atas arahan nilai-nilai islarni. Sains Islam sebagaimana dikernukakan Hussein Nasr adalah sains yang dikembangkan oleh kaum muslimin sejak abad Islam ke-2, yang keadaannnya sudah tentu merupakan salah satu pencapaian besar dalam peradaban Islam.
Selama kurang lebih 700 tahun, sejak abad ke-2 hingga ke-9 Masehi, peradaban Islam mungkin merupakan peradaban yang paling produktif dibandingkan peradaban manapun. Dari Studi Islasm inilah membuat orang barat tertarik untuk mempelajari ilmu pengetahuan Islam yang sampai terkenal di Eropa. Hasilnya, menurut Nasution; salah satu contoh kemajuan orang barat adalah Napoleon yang telah melakukan Ekspedisi ke Mesir dengan mernperkenalkan ilmu pengetahuan dengan membawa 167 ahli dalam berbagai cabang ilmu Diapun membawa dua set alat percetakannhuruf Latiq Arab, dan Yunani. Ekspedisi itu datang bukan hanya untuk kepentingan militer, tetapi juga untuk kepentingan ilmiah.
Untuk kepentingan ilmiah, Napoleon membentuk lembaga ilmiah yang disebut dengan Institut Egypte yang mempunyai empat bidang ilmu kajian.yaitu ilmu pasti, ilmu kalam. ilmu ekonomi dan politik, serta ilmu sastra dan seni. Betapa gemilangnya kemajuan dunia barat dengan mempelajari dan mendalami studi dan sains Islam. Hal ini terjadi pada akhir tahun l80l Masehi, pada waktu inilah membuka mata umat Islam bahwa mereka telah ketinggalan sangat jauh dalam ilmu pengetahuan maka pada wakru ini dikenal dengan massa islanPeriode Modern.

4.      Dampak yang ditimbulkan dari Perkembangan Studi Islam Bagi Dunia Barat
Setelah Studi Islam Berkembangan begitu pesatnya di dunia barat maka mulai tampaklah kelihatan dampak-dampak yang ditimbulkannya mulai dari hal yang positif maupun negatif.

a)      Dampak Positif
Kehadiran Islam di Eropa Spanyol membawa perubahan dalam berbagai segi kehidupan masyarakat, terutama dalam aspek peradaban dan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dari hal ini telah menimbulkan semangat orang barat dalam mempelajari ilmu pengetahuan yang dibawa oleh Islam. Al hasil. maka banyaklah orang barat yang menguasai ilrnu pengetahuan dari Islam. seperti ilmu kimia, ilmu hitung, ilmu tambang (minerologi, meteorology (karya Al Khazini), dan sebagainya.Sedangkan dibidang teknologi adalah orang barat bisa membuat berbagai macam alat industri yang dihasilkan dari observasi atau penelitian. Sekitar abad ke-16 M telah ditemukan sebuah alat perajut kaos kaki.
Kemudian tahun 1733 M John Kay telah berhasil mernbuat alat tenun baru yang dapat bekerja lebih cepat dan menghasilkan tenunan yang baik. Pada tahun 1765 M Hargreaves bertrasil membuat arat pintal yang dapat memintal berpuruh-puluh gulung benang sekaligus. Kemudian sekitar tahun l7g0 M ierjadi revolusi industri di Inggris, seperti ditemukannya mesin uap oreh James watt pada tahun 176g M dan arat tenun oreh carturight tahun l7g5 M yang menyebabkan Inggris menjadi negara industri maju.

b)      Dampak Negatif
Diatas telah kami jelaskan, bagaimana dampak positif dari perkembangan studi Islam di dunia barat. Perlu diketahui disamping adanya dampak positif, ada juga dampak negatif yang ditimbulkannya. Adapun dampak negatif itu adalah dapat kami uraikan sebagai berikut:
Seterah bangsa barat menjadi bangsa yang maju dan telah mengarami revolusi dibidang industri. Maka mereka mendapati masalah kekurangan bahan baku daram kegiatan industrinya. Kemudian untuk mencari jalan keluarny mereka berlomba-lomba mencari di dunia Timur, yang kebanyakan dikuasai oleh pemerintahan muslim. Di samping itu mereka juga memerlukan tempat pemasaran baru bagi hasil industrinya ke negara-negara Timur. Sebagai akibatnya banyak negara-negara Barat datang kedunia Timur dan terjadilah Ekspansi besar besaran dalam bidang sosial, politik ekonomi dan sebagainya. Diwaktu itulah terjadi suatu massa koronial dan imperial, yaitu massa dimana bangsa-bangsa Barat melakukan penjajahan terhadap dunia Timur khususnya dunia muslim. Suasana seperti iru menyebabkan dunia Timur mengalami kemunduran dan Barat mencapai kemajuan pesat dari hasir kolonialisme dan imperiarisme atas dunia Timur.
Rupanya dampak negatif yang kedua ini adalah bagaikan kacang lupa kulitnya, istilah ini memang pantas ditunjukkan pada orang barat, karena kenapa ? mereka sungguh tidak tahu diri. Ilmu yang berkembang di Dunia barat itu adalah dari isram. akan tetapi mereka mengingkarinya mereka tidak mengakui. Malahan mereka mengakui ilmu tersebut berasal dari peradaban lain, bukan dari peradaban isram. Ada seorang sarjana bernama Max Dimont mengakkan bahwa orang Barat itu menderita Narsisisme, yaitu mereka mengagumi diri mereka sendiri, dan kurang memiliki kesediaan untuk mengakui utang budinya kepada bangsa-bangsa lain. Mereka hanya mengatakan bahwa yang mereka dapatkan itu adalah warisan dari Yunani dan Romawi.

5.      Perkembangan Studi Islam di Negara-Negara Barat
Di antara berita gembira ini, yaitu apa yang diriwayatkan oleh Tamin ad dari, ia berkata: aku mendengar rosulullah SAW bersabda yang Artinya, Islam itu akan mencapai wilayah yang dicapai siang dan malam,  Allah tidak akan membiarkan rumah yang mewah maupun yang sederhana kecuali akan mamasukan agam ini kedalamnya. Dengan memuliakan orang yang mulia dan dengan menghinakan orang yang hina. Mulia karena dimuliakan oleh Allah disebabkna keIslamannya dan hina karena dihinakan Allah disebabkan kekafirannya." (HR. Ahmad)
Makna sampainya Islam ke daerah yang disentuh siang dan malam yaitu tersebarnya Islam keseluruh permukaan bumi, sebagaimana siang dan malam menutupinya, dan masuknya agama ini ke daerah perkotaan maupun pedesaan. Dalam perkembangan studi Islam di Negara-Negara Barat dalam bagian tertentu dibedakan sebagai berikut :
Studi Islam mensyaratkan kajian intensif tentang bahasa Arab sebagai bahasa antara pemuda pakar bahasa Arab dali Jerman adalah Johann Jokab Reiske (l716-1774). Kajian-kajian bahasa Arab berkernbarlg secara luas di Eropa. Sejak permulaan abad ke-19, salah satu dari ahli-ahli dalarn bidang ini adalah seorang sarjana Perancis A.i. sylveslre de Sacy (1758-1838).
Studi teks hanya dapat dilakukan berdasarkan pada pengetahuan yang solid tentang bahasa Arab dan bahasa Islam yang lain seperti bahasa Persia-Turki, urdu dan melayu-termasuk di dalamnya kritik teks dan sejarah kesustraan. Dengan dernikian edisi-edisi dari teks-teks tersebut dianggap sebagai pra-syarat dalam kajian-kajian tekstual. Keahlian dalam kajian teks, pada gilirannya merupakan pra-syarat dalam kajian sejarah.

C.    PERKEMBANGAN STUDI ISLAM DI ASIA TENGGARA

1.      Sejarah Masuknya Islam di Asia Tenggara
Islam masuk ke Asia Tenggara disebarluaskan melalui kegiatan kaum muslim yang kebanyakan pekerjaannya sebagai pedagang dan para sufi. Hal ini berbeda dengan daerah Islam di Dunia lainnya yang disebarluaskan melalui penaklulan Arab dan Turki. Islam masuk di Asia Tenggara dengan jalan damai, terbuka dan tanpa pemaksaan sehingga Islam sangat mudah diterima masyarakat Asia Tenggara.
Mengenai kedatangan Islam di negara-negara yang ada di Asia Tenggara hampir semuanya didahului oleh interaksi antara masyarakat di wilayah kepulauan dengan para pedagang Arab, India, Bengal, Cina, Gujarat, Iran, Yaman dan Arabia Selatan. Pada abad ke-5 sebelum Masehi Kepulauan Melayu telah menjadi tempat persinggahan para pedagang yang berlayar ke Cina dan mereka telah menjalin hubungan dengan masyarakat sekitar Pesisir. Kondisi semacam inilah yang dimanfaatkan para pedagang Muslim yang singgah untuk menyebarkan Islam pada warga sekitar pesisir.
Menurut Uka Tjandra Sasmita, prorses masukya Islam ke Asia Tenggara yang berkembang ada enam, yaitu:
1.      Saluran perdagangan
Pada taraf permulaan, proses masuknya Islam adalah melalui perdagangan. Kesibukan lalu-lintas perdagangan pada abad ke-7 hingga ke-16 membuat pedagangpedagang Muslim (Arab, Persia dan India) turut ambil bagian dalam perdagangan dari negeri-negeri bagian Barat, Tenggara dan Timur Benua Asia. Saluran Islamisasi melaui perdagangan ini sangat menguntungkan karena para raja dan bangsawan turut serta dalam kegiatan perdagangan, bahkan mereka menjadi pemilik kapal dan saham. Mereka berhasil mendirikan masjid dan mendatangkan mullah-mullah dari luar sehingga jumlah mereka menjadi banyak, dan karenanya anak-anak Muslim itu menjadi orang Jawa dan kaya-kaya. Di beberapa tempat penguasa-penguasa Jawa yang menjabat sebagai Bupati Majapahit yang ditempatkan di pesisir Utara Jawa banyak yang masuk Islam, bukan karena hanya faktor politik dalam negeri yang sedang goyah, tetapi karena faktor hubungan ekonomi drengan pedagang-rpedrarrgarng Muslim.
Perkembangan selanjutnya mereka kemudian mengambil alih perdagangan dan kekuasaan di tempat-tempat tinggalnya.
2.      Saluran perkawinan
Dari sudut ekonomi, para pedagang Muslim memiliki status sosial yang lebih baik daripada kebanyakan pribumi, sehingga penduduk pribumi terutama puteri-puteri bangsawan, tertarik untuk menjadi isteri saudagar-saudagar itu. Sebelum dikawin mereka diIslamkan terlebih dahulu. Setelah mereka mempunyai keturunan, lingkungan mereka makin luas, akhirnya timbul kampung-kampung, daerah-daerah dan kerajaan Muslim.
Dalam perkembangan berikutnya, ada pula wanita Muslim yang dikawini oleh keturunan bangsawan; tentu saja setelah mereka masuk Islam terlebih dahulu. Jalur perkawinan ini jauh lebih menguntungkan apabila antara saudagar Muslim dengan anak bangsawan atau anak raja dan anak adipati, karena raja dan adipati atau bangsawan itu kemudian turut mempercepat proses Islamisasi. Demikianlah yang terjadi antara Raden Rahmat atau sunan Ampel dengan Nyai Manila, Sunan Gunung Jati dengan puteri Kawunganten, Brawijaya dengan puteri Campa yang mempunyai keturunan Raden Patah (Raja pertama Demak) dan lain-lain.
3.      Saluran Tasawuf
Pengajar-pengajar tasawuf atau para sufi mengajarkan teosofi yang bercampur dengana jaran yang sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Mereka mahir dalam soal magis dan mempunyai kekuatan-kekuatan menyembuhkan. Diantara mereka juga ada yang mengawini puteri-puteri bangsawab setempat. Dengan tasawuf, “bentuk” Islam yang diajarkan kepada penduduk pribumi mempunyai persamaan dengan alam pikiran mereka yang sebelumnya menganut agama Hindu, sehingga agama baru itu mudah dimengerti dan diterima. Diantara ahli-ahli tasawuf yang memberikan ajaran yang mengandung persamaan dengan alam pikiran Indonesia pra-Islam itu adalah Hamzah Fansuri di Aceh, Syekh Lemah Abang, dan Sunan Panggung di Jawa. Ajaran mistik seperti ini masih dikembangkan di abad ke-19 M bahkan di abad ke-20 M ini.
4.      Saluran prendidikan
Islamisasi juga dilakukan melalui pendidikan, baik pesantren maupun pondok yang diselenggarakan oleh guru-guru agama, kiai-kiai dan ulama. Di pesantren atau pondok itu, calon ulama, guru agama dan kiai mendapat pendidikan agama. Setelah keluar dari pesantren, mereka pulang ke kampung masing-masing atau berdakwak ketempat tertentu mengajarkan Islam. Misalnya, pesantren yang didirikan oleh Raden rahmat di Ampel Denta Surabaya, dan Sunan Giri di Giri. Kleuaran pesantren ini banyak yang diundang ke Maluku untuk mengajarkan Agama Islam.
5.      Saluran kesenian
Saluran Islamisasi melaui kesenian yang paling terkenal adalah pertunjukan wayang. Dikatakan, Sunan Kalijaga adalah tokoh yang paling mahir dalam mementaskan wayang. Dia tidak pernah meminta upah pertunjukan, tetapi ia meminta para penonton untuk mengikutinya mengucapkan kalimat syahadat. Sebagian besar cerita wayang masih dipetik dari cerita Mahabarata dan Ramayana, tetapi dalam serita itu di sisipkan ajaran nama-nama pahlawan Islam. Kesenian-kesenian lainnya juga dijadikan alat Islamisasi, seperti sastra (hikayat, babad dan sebagainya), seni bangunan dan seni ukir.

6.      Saluran politik
Di Maluku dan Sulawesi selatan, kebanyakan rakyat masuk Islam setelah rajanya memeluk Islam terlebih dahulu. Pengaruh politik raja sangat membantu tersebarnya Islam di daerah ini. Di samping itu, baik di Sumatera dan Jawa maupun di Indonesia Bagian Timur, demi kepentingan politik, kerajaan-kerajaan Islam memerangi kerajaan-kerajaan non Islam. Kemenangan kerajaan Islam secara politis banyak menarik penduduk kerajaan bukan Islam itu masuk Islam.
Untuk lebih memperjelas bagaimana proses masuknya agama Islam di Asia Tenggara ini, ada 3 teori diharapkan dapat membantu memperjelas tentang penerimaan Islam yang sebenarnya:
a.       Menekankan peran kaum pedagang yang telah melembagakan diri mereka di beberapa wilayah pesisir lndonesia, dan wilayah Asia Tenggara yang lain yang kemudian melakukan asimilasi dengan jalan menikah dengan beberapa keluarga penguasa local yang telah menyumbangkan peran diplomatik, dan pengalaman lnternasional terhadap perusahaan perdagangan para penguasa pesisir. Kelompok pertama yang memeluk agama lslam adalah dari penguasa lokal yang berusaha menarik simpati lalu-lintas Muslim dan menjadi persekutuan dalam bersaing menghadapi pedagang-pedagang Hindu dari Jawa. Beberapa tokoh di wilayah pesisir tersebut menjadikan konversi ke agama lslam untuk melegitimasi perlawanan mereka terhadap otoritas Majapahit dan untuk melepaskan diri dari pemerintahan beberapa lmperium wilayah tengah Jawa.
b.      Menekankan peran kaum misionari dari Gujarat, Bengal dan Arabia. Kedatangan para sufi bukan hanya sebagai guru tetapi sekaligus juga sebagai pedagang dan politisi yang memasuki lingkungan istana para penguasa, perkampungan kaum pedagang, dan memasuki perkampungan di wilayah pedalaman. Mereka mampu mengkomunikasikan visi agama mereka dalam bentuknya, yang sesuai dengan keyakinan yang telah berkembang di wilayah Asia Tenggara. Dengan demikian dimungkinkan bahwa masuknya Islam ke Asia Tenggara agaknya tidak lepas dengan kultur daerah setempat.
c.       Lebih menekankan makna lslam bagi masyarakat umum dari pada bagi kalangan elite pemerintah. Islam telah menyumbang sebuah landasan ldeologis bagi kebajikan lndividual, bagi solidaritas kaum tani dan komunitas pedagang, dan bagi lntegrasi kelompok parochial yang lebih kecil menjadi masyarakat yang lebih besar (Lapidus, 1999:720-721). Agaknya ketiga teori tersebut bisa jadi semuanya berlaku, sekalipun dalam kondisi yang berbeda antara satu daerah dengan yang lainnya. Tidak terdapat proses tunggal atau sumber tunggal bagi penyebaran lslam di Asia Tenggara, namun para pedagang dan kaum sufi pengembara, pengaruh para murid, dan penyebaran berbagai sekolah agaknya merupakan faktor penyebaran lslam yang sangat penting.


2.      Perkembangan Peradaban Islam di Asia Tenggara
Sebagaimana telah diuraikan di atas, pada term penyebaran Islam di Asia Tenggara yang tidak terlepas dari kaum pedagang Muslim. Hingga kontrol ekonomi pun di monopoli oleh mereka. Disamping itu pengaruh ajaran Islam sendiripun telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan Masyarakat Asia Tenggara. Islam mentransformasikan budaya masyarakat yang telah di-Islamkan di kawasan ini, secara bertahap. Islam dan etos yang lahir darinya muncul sebagai dasar kebudayaan.
Namun dari masyarakat yang telah di-Islamkan dengan sedikit muatan lokal. Islamisasi dari kawasan Asia Tenggara ini membawa persamaan di bidang pendidikan. Pendidikan tidak lagi menjadi hak istimewa kaum bangsawan. Tradisi pendidikan Islam melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Setiap Muslim diharapkan mampu membaca al Qur’an dan memahami asas-asas Islam secara rasional dan dan dengan belajar huruf Arab diperkenalkan dan digunakan di seluruh wilayah dari Aceh hingga Mindanao. Bahasabahasa lokal diperluasnya dengan kosa-kata dan gayabahasa Arab. Bahasa Melayu secara khusus dipergunakan sebagai bahasa sehari-hari di Asia Tenggara dan menjadi media pengajaran agama. Bahasa Melayu juga punya peran yang penting bagi pemersatu seluruh wilayah itu.
Sejumlah karya bermutu di bidang teologi, hukum, sastra dan sejarah, segera bermunculan. Banyak daerah di wilayah ini seperti Pasai, Malaka dan Aceh juga Pattani muncul sebagai pusat pengajaran agama yang menjadi daya tarik para pelajar dari sejumlah penjuru wilayah ini.
System pendidikan Islam kemudian segera di rancang. Dalam banyak batas, Masjid atau Surau menjadi lembaga pusat pengajaran. Namun beberapa lembaga seperti pesantren di Jawa dan pondok di Semenanjung Melaya segera berdiri. Hubungan dengan pusat-pusat pendidikan di Dunia Islam segera di bina. Tradisi pengajaran Paripatetis yang mendahului kedatangan Islam di wilayah ini tetap berlangsung. Ibadah Haji ke Tanah Suci di selenggarakan, dan ikatan emosional, spritual, psikologis, dan intelektual dengan kaum Muslim Timur Tengah segera terjalin. Lebih dari itu arus imigrasi masyarakat Arab ke wilayah ini semakin deras.
Di bawah bimbingan para ulama Arab dan dukungan negara, wilayah ini melahirkan ulama-ulama pribumi yang segera mengambil kepemimpinan lslam di wilayah ini. Semua perkembangan bisa dikatakan karena lslam, kemudian melahirkan pandangan hidup kaum Muslim yang unik di wilayah ini. Sambil tetap memberi penekanan pada keunggulan lslam, pandangan hdup ini juga memungkinkan unsur-unsur local masuk dalam pemikiran para ulama pribumi. Mengenai masalah identitas, internalisasi Islam, atau paling tidak aspek luarnya, oleh pendudukan kepulauan membuat Islam muncul sebagai kesatuan yang utuh dari jiwa dan identitas subyektif mereka. Namun fragmentasi politik yang mewarnai wilayah ini, di sisi lain, juga melahirkan perasaan akan perbedaan identitas politik diantara penduduk yang telah di Islamkan.

          Menurut Ajid Thohir, sejarah perkembangan Islam di Amerika dewasa ini terus mengalami peningkatan dengan adanya tiga faktor. Pertama, arus datangnya kaum imigran muslim semakin bertambah, dan keturunan mereka juga bertambah. Kedua, konversi agama di kalangan penduduk Amerika berkulit hitam. Ketiga, konversi agama di kalangan kulit putih.
          Di tahun 1997, Amerika Serikat mengalami persoalan sosial yang serius. Ahmed Husosen Deedat mengatakan, persoalan yang dihadapi oleh Amerika Serikat adalah para gay, pemabuk, surplus kaum wanita, pemerkosaan dan pembunuhan. Tidak ada orang Amerika yang dapat menjadi Walikota di New York, Los Angles atau San Fransisco tanpa dukungan kaum gay di kota-kota tersebut. Amerika juga memiliki 11 juta pemabuk (problem drinkers) ditambah lagi 40 juta peminum berat. Lalu kemudian orang-orang Amerika mencari jalan keluar dari persoalan-persoalan tersebut, di antaranya dengan terbentuknya sekte-sekte keagamaan, seperti Sun Meong Mouse (pemuda Korea yang mengaku menjadi Kristus kedua), Father Devine (seorang Negro Amerika yang mengaku dirinya Tuhan), Riv Jim Jones (yang mempraktekkan cara memuja dengan bunuh diri), Klu Kluks Klan (gerakan Here Krishna, kelompok pemuja setan). Kemudian Ahmed Deedat menjelaskan bahwa Islam dapat memberikan jalan keluar kepada orang-orang Amerika, akan tetapi siapa yang cocok melakukan Islamisasi di Amerika adalah Afro-Amerika karena tekanan yang mereka alami selama lebih kurang tiga abad, telah menjadikan mereka sebagai komunitas muslim paling militan di dunia. Allah telah memilih the black man untuk tugas mulia ini, yakni mengubah masyarakat Barat.
          Di samping dakwah yang dilakukan oleh masyarakat muslim Afro-Amerika, usaha lain yang dilakukan oleh masyarakat muslim yang diperkenalkan Islam di California adalah mendirikan perpustakaan dengan nama Muslim Public Library. Perpustakaan ini dimaksudkan untuk studi keagamaan, penyesuaian kebudayaan Amerika bagi keluarga muslim, dan memperkenalkan non-muslim pada Islam yang sering digambarkan sebagai agama teroris karena seringnya terjadi distorsi, itulah terjadi pembakaran mesjid di Yuba City sebelah utara California, dan mesjid di New York sekitar tahun 1994.
          Di samping itu, di Washington sendiri terdapat Islamic Centre, pusat kegiatan Islam yang selama ini menjadi pusat pedoman penting untuk berbagai persoalan penting bagi masyarakat muslim Amerika Serikat, seperti penentuan awal Ramadhan, jatuhnya Idul Fitri, dan jadwal shalat sehari-hari.
          Kaum muslim yang tinggal di Amerika Serikat saat ini mewakili banyak pergerakan besar dan identitas dari kalangan imigran dan pribumi, Sunni dan Syiah, konservatif dan liberal. Muslim Arab kini terus mengisi proporsi dalam jumlah besar dari komunitas Islam di Amerika Serikat. Banyak dari mereka yang berpendidikan tinggi dan para profesional yang sukses berperan sebagai pemimpin dalam pengembangan Islam Amerika yang lintas kebangsaan dan lintas etnis. Belum ditemukan data akurat tentang jumlah Muslim Amerika Serikat. Namun, ada yang memperkirakan jumlah Muslim di Amerika Serikat saat ini telah mencapai 6 juta jiwa. Sarana peribadatan berupa mesjid di Amerika Serikat terdapat pada hampir seluruh, kalau tidak semua negara bagian di Amerika Serikat. Jumlah mesjid menurut data yang diperoleh sebanyak 1.209 buah. Sekolah-sekolah Islam terdapat di Ohio dengan nama Sekolah Islam Oasis, di New Jersey terdapat SD Muslim al-Gazali.
Dibalik perkembangan Islam di Amerika serikat, para penentu kebijakan Amerika, tampaknya ragu-ragu dalam mengambil posisi yang pasti terhadap kebangkitan Islam di Amerika Serikat dewasa ini. Keraguan tersebut berakar dari ketidakmampuan Washington dalam memprediksi dan mengukur dampak-dampak kebijakan luar negeri pada negara-negara Islam pada saat mereka memegang kekuasaan. Oleh karena itu, setidaknya ada tiga hal yang mendasari posisi Amerika terhadap Islam politik.
Pertama, Amerika tidak ingin terlihat tidak bersahabat bagi negara-negara Islam, karena hal tersebut dikhawatirkan akan memperparah sikap mereka terhadap Amerika. Para pejabat pemerintah Amerika tidak mau mengulangi kesalahan yang dibuat saat menghadapi revolusi Islam di Iran.
Kedua, keraguan secara terbuka mendukung kelompok Islam manapun yang kepentingan regional dan sekutunya. Ketiga, para pembuat kebijakan luar negeri Amerika terdapat sebentuk ketidakyakinan tentang kemungkinan terjadinya hubungan antara negara Islam dan demokrasi. Kebijakan luar negeri Amerika Serikat sering dibicarakan dalam lingkup ketegangan dialektika antara dua pola yang berlawanan
Ketiga, para pembuat kebijakan luar negeri Amerika terdapat sebentuk ketidakyakinan tentang kemungkinan terjadinya hubungan antara negara Islam dan demokrasi.
Terlepas dari objektivitas petinggi Amerika Serikat, yang jelasnya bahwa mereka mempunyai kepentingan besar yaitu, menjaga status quo budaya Barat yang telah menguasai dunia dengan membuat opini publik bahwa kebudayaan yang paling unggul adalah kebudayaan Barat di Amerika. Kaitannya dengan ini, pada era 90-an, Huntingtong melontarkan pernyataan tentang akan terjadi benturan antar peradaban. Pernyataan ini menjadi topik pembicaraan yang hangat, karena hipotesis tersebut dilontarkan pada saat Perang Dingin telah berlalu, dengan runtuhnya kolonialisme-sosialisme yang menjelma dalam bentuk negara Uni Soviet dan negara-negara sekutunya di Eropa Timur.
Saat ini yang tinggal adalah kekuatan raksasa tunggal, yaitu Amerika Serikat dan sekutunya. Terpecah belahnya Uni Soviet menjadi sebuah republik yang merdeka disambut dengan antusias dan sekaligus kekhawatiran. Antusias karena bubarnya Uni Soviet sebagai lambang runtuhnya ideologi komunisme dan kemenangan ideologi kapitalisme atau liberalisme Barat. Kekhawatiran pertama adalah soal keamanan, senjata nuklir yang semula hanya dimiliki satu negara (Soviet) kini menyebar menjadi milik beberapa negara (khususnya Rusia, Ukraina, Irak dan lain-lain), menyebabkan sulit untuk mengontrolnya. Kedua, faktor ideologis yaitu memberikan peluang bagi kebangkitan Islam di republik-republik (bekas Soviet) berpenduduk mayoritas muslim, terutama di Asia Tengah dan Azerbaijan.

Hipotesis Huntingtong tersebut, tidak memiliki alasan yang jelas, kecuali alasan ekonomi dan perdagangan, orang tidak melihat alasan kultural yang signifikan. Amerika Serikat berusaha memberi citra tentang Islam sebagai suatu ancaman dan mencoba menggambarkan Islam sesuai dengan perspektif budaya dan peradaban Barat. Pencitraan Islam oleh media massa Barat bahwa Islam adalah agama yang mengancam, menakutkan, teror, ekstrim dan kata-kata lain semacamnya.
Amerika Serikat tampil sebagai satu-satunya negara adikuasa. Struktur politik internasional berpola ‘anarki piramida’ menggantikan pola “bipolar”. Dalam pola baru ini Amerika tetap bermukim di puncak piramida dunia lewat kepemimpinan politik, ekonomi, dan tekhnologi militernya. Di bawahnya bertengger multipolonisme Eropa yang beranggotakan Inggris, Perancis, Jerman dan Rusia.
Presiden George. W Bush, sebagai pendukung partisan Israil, pada akhir Agustus 2001, sebelas hari sebelum meletusnya serangan terhadap gedung World Trade Centre (WTC) dan Pentagon pada 11 September 2001, Amerika dan sekutu-sekutunya telah memainkan manuver yang sangat menjengkelkan umat Islam dan dunia Arab dengan memboikot konfrensi tentang rasisme di Durbai Afrika Selatan, karena sejumlah kalangan mengusulkan resolusi yang menyamakan zionisme dengan rasialisme.
Demikian juga para politisi Amerika Serikat dengan mudah mengunakan sentimen ‘anti Islam” yang sudah berurat berakar pada masyarakat Kristen Barat. Direktur CIA, George Tenet mengumumkan bahwa musuh utama Amerika adalah teroris besar Osama bin Laden. Pernyataan ini memperkeruh hubungan Barat dan Islam. Apalagi dengan Hancur leburnya menara kembar World Trade Centre (WTC) di New York Amerika pada Selasa, 11 September 2001, merupakan tragedi dan atau peristiwa terdahsyat dunia di awal abad ke 21. Osama bin Laden dan jaringan al-Qaedahnya yang tertuduh sebagai pelaku utama atas kehancuran WTC, kelihatannya membawa dampak yang sangat buruk terhadap dunia Islam. Dikatakan demikian, karena Presiden Amerika George Bush, secara tiba-tiba mengeluarkan statemen “miring” bahwa “Islam adalah Teroris”. Dalam hal ini, G. Bush mengumumkan kepada dunia bahwa:
Amerika diserang teroris biadab. Teroris itu adalah Osama bin Laden. Teroris itu adalah Islam. Amerika tidak akan tinggal Diam. Amerika akan membalas. Amerika tidak akan kalah. Amerika sudah terbiasa berperang …. Ikut Amerika atau ikut teroris. Tidak ada pilihan ketiga, apalagi pilihan keempat. Siapa yang tidak mau ikut Amerika akan digebuk. Rezim yang tidak mau memusuhi terorisme akan dicap sebagai rezim jahat.
Dua poin penting yang perlu digarisbawahi dari statemen G. Bush tersebut, yakni ; “Teroris itu adalah Islam” dan “Amerika akan membalas”. Menurut penulis, statemen poin pertama, belum ada bukti yang akurat. Sedangkan statemen point kedua, buktinya sudah sangat banyak.
Menurut Ulil Abshar Abdallah bahwa kekerasan dan diskriminasi yang menimpa umat Islam, terutama yang ada di Amerika semenjak peristiwa WTC telah mencapai 1717 kasus, dan kasus yang terbanyak (372 kasus) adalah pelecehan seksual terhadap para muslimah yang berjilbab di Amerika. Jilbab adalah salah satu identitas Islam, dan karena itu mereka menganggap bahwa setiap wanita berjilbab berpotensi memiliki hubungan yang erat dengan terorisme.
Perlakukan Amerika terhadap dunia Islam pasca tragedi 11 September 2001, tidak saja dalam bentuk kekerasan dan diskriminasi terhadap kaum muslim secara individu dan berkelompok di negara-negara seperti yang telah disebutkan, tetapi Amerika juga dengan statemen (balas demdam)-nya telah menyerang negara-negara Islam. Hal ini, terbukti dengan adanya penyerangan Amerika terhadap Afganistan, dan ambisi busuk operasi penyerangan Irak dan penggulingan terhadap rezim Saddam Husein dengan kekuatan senjata semakin mengemuka dan semakin kuat pasca 11 Septembar 2001.


Selama 20 tahun terakhir, jumlah kaum Muslim di dunia telah meningkat secara perlahan. Angka statistik tahun 1973 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Muslim dunia adalah 500 juta; sekarang, angka ini telah mencapai 1,5 miliar. Kini, setiap empat orang salah satunya adalah Muslim. Bukanlah mustahil bahwa jumlah penduduk Muslim akan terus bertambah dan Islam akan menjadi agama terbesar di dunia. Peningkatan yang terus-menerus ini bukan hanya dikarenakan jumlah penduduk yang terus bertambah di negara-negara Muslim, tapi juga jumlah orang-orang mualaf yang baru memeluk Islam yang terus meningkat, suatu fenomena yang menonjol, terutama setelah serangan terhadap World Trade Center pada tanggal 11 September 2001. Serangan ini, yang dikutuk oleh setiap orang, terutama umat Muslim, tiba-tiba saja telah mengarahkan perhatian orang (khususnya warga Amerika) kepada Islam. Orang di Barat berbicara banyak tentang agama macam apakah Islam itu, apa yang dikatakan Al Qur’an, kewajiban apakah yang harus dilaksanakan sebagai seorang Muslim, dan bagaimana kaum Muslim dituntut melaksanakan urusan dalam kehidupannya. Ketertarikan ini secara alamiah telah mendorong peningkatan jumlah warga dunia yang berpaling kepada Islam. Demikianlah, perkiraan yang umum terdengar pasca peristiwa 11 September 2001 bahwa “serangan ini akan mengubah alur sejarah dunia”, dalam beberapa hal, telah mulai nampak kebenarannya. Proses kembali kepada nilai-nilai agama dan spiritual, yang dialami dunia sejak lama, telah menjadi keberpalingan kepada Islam.
Hal luar biasa yang sesungguhnya sedang terjadi dapat diamati ketika kita mempelajari perkembangan tentang kecenderungan ini, yang mulai kita ketahui melalui surat-surat kabar maupun berita-berita di televisi. Perkembangan ini, yang umumnya dilaporkan sekedar sebagai sebuah bagian dari pokok bahasan hari itu, sebenarnya adalah petunjuk sangat penting bahwa nilai-nilai ajaran Islam telah mulai tersebar sangat pesat di seantero dunia. Di belahan dunia Islam lainnya, Islam berada pada titik perkembangan pesat di Eropa. Perkembangan ini telah menarik perhatian yang lebih besar di tahun-tahun belakangan, sebagaimana ditunjukkan oleh banyak tesis, laporan, dan tulisan seputar “kedudukan kaum Muslim di Eropa” dan “dialog antara masyarakat Eropa dan umat Muslim.” Beriringan dengan berbagai laporan akademis ini, media massa telah sering menyiarkan berita tentang Islam dan Muslim. Penyebab ketertarikan ini adalah perkembangan yang terus-menerus mengenai angka populasi Muslim di Eropa, dan peningkatan ini tidak dapat dianggap hanya disebabkan oleh imigrasi. Meskipun imigrasi dipastikan memberi pengaruh nyata pada pertumbuhan populasi umat Islam, namun banyak peneliti mengungkapkan bahwa permasalahan ini dikarenakan sebab lain: angka perpindahan agama yang tinggi. Suatu kisah yang ditayangkan NTV News pada tanggal 20 Juni 2004 dengan judul “Islam adalah agama yang berkembang paling pesat di Eropa” membahas laporan yang dikeluarkan oleh badan intelejen domestik Prancis. Laporan tersebut menyatakan bahwa jumlah orang mualaf yang memeluk Islam di negara-negara Barat semakin terus bertambah, terutama pasca peristiwa serangan 11 September. Misalnya, jumlah orang mualaf yang memeluk Islam di Prancis meningkat sebanyak 30 hingga 40 ribu di tahun lalu saja.

1)      Gereja Katolik dan Perkembangan Islam
Gereja Katolik Roma, yang berpusat di kota Vatican, adalah salah satu lembaga yang mengikuti fenomena tentang kecenderungan perpindahan agama. Salah satu pokok bahasan dalam pertemuan bulan Oktober 1999 muktamar gereja Eropa, yang dihadiri oleh hampir seluruh pendeta Katolik, adalah kedudukan Gereja di milenium baru. Tema utama konferensi tersebut adalah tentang pertumbuhan pesat agama Islam di Eropa. The National Catholic Reporter melaporkan sejumlah orang garis keras menyatakan bahwa satu-satunya cara mencegah kaum Muslim mendapatkan kekuatan di Eropa adalah dengan berhenti bertoleransi terhadap Islam dan umat Islam; kalangan lain yang lebih objektif dan rasional menekankan kenyataan bahwa oleh karena kedua agama percaya pada satu Tuhan, sepatutnya tidak ada celah bagi perselisihan ataupun persengketaan di antara keduanya. Dalam satu sesi, Uskup Besar Karl Lehmann dari Jerman menegaskan bahwa terdapat lebih banyak kemajemukan internal dalam Islam daripada yang diketahui oleh banyak umat Nasrani, dan pernyataan-pernyataan radikal seputar Islam sesungguhnya tidak memiliki dasar.
Mempertimbangkan kedudukan kaum Muslim di saat menjelaskan kedudukan Gereja di milenium baru sangatlah tepat, mengingat pendataan tahun 1999 oleh PBB menunjukkan bahwa antara tahun 1989 dan 1998, jumlah penduduk Muslim Eropa meningkat lebih dari 100 persen. Dilaporkan bahwa terdapat sekitar 13 juta umat Muslim tinggal di Eropa saat ini: 3,2 juta di Jerman, 2 juta di Inggris, 4-5 juta di Prancis, dan selebihnya tersebar di bagian Eropa lainnya, terutama di Balkan. Angka ini mewakili lebih dari 2% dari keseluruhan jumlah penduduk Eropa.

2)      Kesadaran Beragama di Kalangan Muslim Meningkat di Eropa
Penelitian terkait juga mengungkap bahwa seiring dengan terus meningkatnya jumlah Muslim di Eropa, terdapat kesadaran yang semakin besar dalam menjalankan agama di kalangan para mahasiswa. Menurut survei yang dilakukan oleh surat kabar Prancis Le Monde di bulan Oktober 2001, dibandingkan data yang dikumpulkan di tahun 1994, banyak kaum Muslims terus melaksanakan sholat, pergi ke mesjid, dan berpuasa. Kesadaran ini terlihat lebih menonjol di kalangan mahasiswa universitas.
Dalam sebuah laporan yang didasarkan pada media masa asing di tahun 1999, majalah Turki Akt├╝el menyatakan, para peneliti Barat memperkirakan dalam 50 tahun ke depan Eropa akan menjadi salah satu pusat utama perkembangan Islam.

3)      Islam adalah Bagian Tak Terpisahkan dari Eropa
Bersamaan dengan kajian sosiologis dan demografis ini, kita juga tidak boleh melupakan bahwa Eropa tidak bersentuhan dengan Islam hanya baru-baru ini saja, akan tetapi Islam sesungguhnya merupakan bagian tak terpisahkan dari Eropa.
Eropa dan dunia Islam telah saling berhubungan dekat selama berabad-abad. Pertama, negara Andalusia (756-1492) di Semenanjung Iberia, dan kemudian selama masa Perang Salib (1095-1291), serta penguasaan wilayah Balkan oleh kekhalifahan Utsmaniyyah (1389) memungkinkan terjadinya hubungan timbal balik antara kedua masyarakat itu. Kini banyak pakar sejarah dan sosiologi menegaskan bahwa Islam adalah pemicu utama perpindahan Eropa dari gelapnya Abad Pertengahan menuju terang-benderangnya Masa Renaisans. Di masa ketika Eropa terbelakang di bidang kedokteran, astronomi, matematika, dan di banyak bidang lain, kaum Muslim memiliki perbendaharaan ilmu pengetahuan yang sangat luas dan kemampuan hebat dalam membangun.

F.      SEJARAH PERKEMBANGAN ISLAM DI AFRIKA
1)      Masuknya Islam
Agama Islam masuk ke daratan Afrika pada masa Khalifah Umar bin Khattab, waktu Amru bin Ash memohon kepada Khalifah untuk memperluas penyebaran Islam ke Mesir lantaran dia melihat bahwa rakyat Mesir telah lama menderita akibat ditindas oleh penguasa Romawi dibawah Raja Muqauqis. Sehingga mereka sangat memerlukan uluran tangan untuk membebaskannya dari ketertindasan itu. Muqauqis sesungguhnya tertarik hendak masuk Islam setelah menerima surat dari Rasulullah SAW. Namun, karena lebih mencintai tahtanya maka sebagai tanda simpatinya beliau kirimkan hadiah kepada Rasulullah SAW.Selain alasan diatas Amru bin Ash memandang bahwa Mesir dilihat dari kacamata militer maupun perdagangan letaknya sangat strategis, tanahnya subur karena terdapat sungai Nil sebagai sumber makanan. Maka dengan restu Khalifah Umar bin Khattab dia membebaskan Mesir dari kekuasaan Romawi pada tahun 19 H (640 M) hingga sekarang. Dia hanya membawa 400 orang pasukan karena sebagian besar diantaranya tersebar di Persia dan Syria. Berkat siasat yang baik serta dukungan masyarakat yang dibebaskannya maka ia berhasil memenangkan berbagai peperangan. Mula-mula memasuki kota Al-Arisy dan dikota ini tidak ada perlawanan, baru setelah memasuki Al-Farma yang merupakan pintu gerbang memasuki Mesir mendapat perlawanan, oleh Amru bin Ash kota itu dikepung selama 1 bulan. Setelah Al-Farma jatuh, menyusul pula kota Bilbis, Tendonius, Ainu Syam hingga benteng Babil (istana lilin) yang merupakan pusat pemerintahan Muqauqis. Pada saat hendak menyerbu Babil yang dipertahankan mati-matian oleh pasukan Muqauqis itu, datang bala bantuan 4.000 orang pasukan lagi dipimpin empat panglima kenamaan, yaitu Zubair bin Awwam, Mekdad bin Aswad, Ubadah bin Samit dan Mukhollad sehingga menambah kekuatan pasukan muslim yang merasa cukup kesulitan untuk menyerbu karena benteng itu dikelilingi sungai. Akhirnya, pada tahun 22 H (642 M) pasukan Muqauqis bersedia mengadakan perdamaian dengan Amru bi Ash yang menandai berakhirnya kekuasaan Romawi di Mesir.

2)      Perkembangan Islam di Afrika
Pemabahasan mengenai masuk dan berkembangnya Islam di Afrika mencakup beberapa wilayah negara yaitu Mesir, Libia, Tunisia, Aljazair, Maroko, Mauritania, Nigeria, Mali, Pantai Gading, Sudan, Ethiopia, Kenya, Zambia dan lain-laannya. Namun yang akan dibahas kali ini hanya sebagiannya saja.
a.      Mesir
Mesir adalah kawasan Afrika pertama yang menerima masuknya Islam di benua ini, penduduknya lebih kurang 42 juta jiwa, dimana sekitar tigs jutanya beragama Kristen selebihnya beragama Islam. Bahkan, di kota Iskandariyah hingga kini masih terjaga segala macam kebesaran umat Nasrani Orthodox tanpa diganggu keberadaannya oleh umat Islam. Di Mesir terdapat delapan universitas diantara yang termashyur ke seluruh dunia ialah Al-Azhar di Kairo yang didirikan oleh Bani Fathimiyah pada tahun 972 M. Disana banyak mahasiswa-mahasiswa yang belajar dari seluruh dunia termasuk dari Indonesia yang kebanyakan mendapat beasiswa untuk belajar ilmu agama maupun pendidikan umum seperti kedokteran, tekhnik dan lain-lainnya.
Sementara itu, perluasan pengaruh Islam di kawasan Tunisia telah terjadi sejak pemerintahan Khalifah Usman bin Affan tahun 23-35 H (644-656 M) oleh Panglima Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarah dengan menghancurkan tentara Romawi yang telah jatuh reputasinya. Sehingga pasukan Abdullah bin sa’ad dengan mudah menguasainya. Sedang masuknya Islam ke Maghribil Aqsha atau Afrika Utara sesudah berdirnya daulah Bani Umayah dibawah pimpinan Khalifah Walid bin Abdul Malik, yang memberikan tugas tersebut kepada Panglima Musa bin Nushair yang akhirnya ditunjuk sebagai gubernur wilayah itu.

b.      Libya
Negeri Mouamar Ghadafi ini merupakan kawasan terpanas di Timur Tengah, dengan luas 1.795.540 km berpenduduk ± 3 juta jiwa terdiri dari bangsa Arab, Barbar serta Palestina hampir seluruhnya beragama Islam. Rakyat hidup dari sektor pertanian, dan setelah ditemukan sumur-sumur minyak berkualitas tinggi sebagian penduduknya menjadi tenaga kerja dalam industri ini, selebihnya mengandalkan tenaga-tenaga asing.
c.       Nigeria
Nigeria terletak di sebelah barat Afrika termasuk negara yang kaya minyak yang diekspor ke Amerika Serikat terbesar kedua setelah Saudi Arabia. Penduduknya terdiri atas macam-macam suku bangsa berjumlah ± 90 juta dan 75 % beragama Islam selebihnya Kristen maupun Animisme. Negeri-negeri yang menikmati pengaruh Islam di kawasan Afrika dan hingga kini penduduknya mayoritas beragama Islam antara lain Maroko, Sudan, Al-Jazair, dan Ethiopia.

3 komentar:

  1. Makasih mas atas refrensinya....
    salam kenal ,,

    BalasHapus
  2. blh gk, share sumber nya dri mana ?

    BalasHapus