Kamis, 24 Januari 2013

FENOMENA AGAMA dalam KEHIDUPAN MASYARAKAT


1.      Fenomena Agama Dalam Kehidupan Manusia
 i

Agama dan kehidupan beragama merupakan unsur yang tak terpisahkan dari kehidupan dan sistem budaya umat manusia. Sejak awal manusia berbudaya, agama dan kehidupan beragama tersebut telah menggejala dalam kehidupan, bahkan memberikan corak dan bentuk dari semua perilaku budayanya. Agama dan perilaku keagamaan tumbuh dan berkembang dari adanya rasa ketergantungan manusia terhadap kekuatan ghaib yang mereka rasakan sebagai sumber kehidupan mereka. Mereka harus berkomunikasi untuk memohon bantuan dan pertolongan kepada kekuatan ghaib tersebut, agar mendapatkan kehidupan yang aman, selamat dan sejahtera. Tetapi apa dan siapa kekuatan ghaib yang mereka rasakan sebagai sumber kehidupan tersebut, dan bagaimana cara berkomunikasi dan memohon perlindungan dan bantuan tersebut, mereka tidak tahu. Mereka merasakan adanya dan kebutuhan akan bantuan dan perlindungannya. Itulah awal rasa Agama, yang merupakan desakan dari dalam diri mereka, yang mendorong timbulnya perilaku keagamaan. Dengan demikian, rasa Agama dan perilaku keagamaan merupakan pembawaan dari kehidupan manusia, atau dengan istilah lain merupakan fitrah manusia.
            Fitrah adalah kondisi sekaligus potensi bawaan yang berasal dari dan ditetapkan dalam proses penciptaan manusia. Di samping fitrah beragama, manusia memiliki fitrah untuk hidup bersama dengan manusia lainnya atau bermasyarakat. Dan fitrah pokok dari manusia adalah fitrah berakal budi, yang memungkinkan manusia berbudi daya untuk mempertahankan dan memenuhi kebutuhan hidup, mengatur dan mengembangkan kehidupan bersama. Serta menyusun sistem kehidupan dan budaya serta lingkungan hidup yang aman dan sejahtera. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa manusia dengan akal budinya berkemampuan untuk menjawab tantangan dan memecahkan permasalahan yang dihadapi dalam kehidupannya baik yang bersumber dari rasa keagamaan maupun rasa kebersamaan (bermasyarakat), serta rasa untuk memenuhi kebutuhan dan mempertahankan hidup. Dan dengan akalnyalah manusia membentuk kehidupan budaya, termasuk di dalamnya kehidupan keagamaannya. Selanjutnya, Agama dan kehidupan keagamaan yang terbentuk bersama dengan pertumbuhan dan         perkembangan akal serta budi daya manusia disebut dengan Agama Akal atau Agama Budaya. Sementara itu sepanjang kehidupan manusia, Allah telah memberikan petunjuk melalui para Rasul tentang Agama dan kehidupan keagamaan yang benar. Para Rasul itu juga berfungsi untuk memberikan petunjuk guna meningkatkan daya akal budi manusia alam menghadapi dan menjawab tantangan serta memecahkan permasalahan kehidupan umat manusia yang terus berkembang sepanjang sejarahnya. Agama yang dibawa Rasul Allah itu bukan hanya berkaitan dengan kehidupan keagamaan semata, tetapi juga menyangkut kehidupan-kehidupan sosial budaya yang lainnya. Agama ini mendorong agar kehidupan keagamaan, kehidupan sosial dan kehidupan budaya lainnya dapat tumbuh berkembang bersama secara terpadu untuk mewujudkan suatu sistem budaya dan peradaban yang Islami. [1]

            Fenomena agama selalu hadir dalam kehidupan manusia karena manusia tidak bisa lepas dari Allah atau yang dianggap Allah dan karena agama sangat erat kaitannya dengan Allah. Adapun fungsi agama bagi kehidupan.
Ada beberapa alasan tentang mengapa agama itu sangat penting dalam kehidupan manusia, antara lain adalah :
  • Karena agama merupakan sumber moral
  • Karena agama merupakan petunjuk kebenaran
  • Karena agama merupakan sumber informasi tentang masalah metafisika.
  • Karena agama memberikan bimbingan rohani bagi manusia baik di kala suka, maupun di kala duka.
Manusia sejak dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan lemah dan tidak berdaya, serta tidak mengetahui apa-apa sebagaimana firman Allah dalam Q. S. al-Nahl (16) : 78
Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak tahu apa-apa. Dia menjadikan untukmu pendengaran, penglihatan dan hati, tetapi sedikit di antara mereka yang mensyukurinya.
Dalam keadaan yang demikian itu, manusia senantiasa dipengaruhi oleh berbagai macam godaan dan rayuan, baik dari dalam, maupun dari luar dirinya. Godaan dan rayuan daridalam diri manusia dibagi menjadi dua bagian, yaitu
  • Godaan dan rayuan yang berysaha menarik manusia ke dalam lingkungan kebaikan, yang menurut istilah Al-Gazali dalam bukunya ihya ulumuddin disebut dengan malak Al-hidayah yaitu kekuatan-kekuatan yang berusaha menarik manusia kepada hidayah ataukebaikan.
  • Godaan dan rayuan yang berusaha memperdayakan manusia kepada kejahatan,yang menurut istilah Al-Gazali dinamakan malak al-ghiwayah, yakni kekuatan-kekuatan yang berusaha menarik manusia kepada kejahatan
Disinilah letak fungsi agama dalam kehidupan manusia, yaitu membimbing manusia kejalan yang baik dan menghindarkan manusia dari kejahatan atau kemungkaran.

Fungsi Agama Kepada Manusia
Dari segi pragmatisme, seseorang itu menganut sesuatu agama adalah disebabkan oleh fungsinya. Bagi kebanyakan orang, agama itu berfungsi untuk menjaga kebahagiaan hidup. Tetapi dari segi sains sosial, fungsi agama mempunyai dimensi yang lain seperti apa yang dihuraikan di bawah:
- Memberi pandangan dunia kepada satu-satu budaya manusia.
Agama dikatakan memberi pandangan dunia kepada manusia kerana ia sentiasanya memberi penerangan mengenai dunia(sebagai satu keseluruhan), dan juga kedudukan manusia di dalam dunia. Penerangan bagi pekara ini sebenarnya sukar dicapai melalui inderia manusia, melainkan sedikit penerangan daripada falsafah. Contohnya, agama Islam menerangkan kepada umatnya bahawa dunia adalah ciptaan Allah SWTdan setiap manusia harus menaati Allah SWT
-Menjawab pelbagai soalan yang tidak mampu dijawab oleh manusia.
Sesetengah soalan yang senantiasa ditanya oleh manusia merupakan soalan yang tidak terjawab oleh akal manusia sendiri. Contohnya soalan kehidupan selepas mati, matlamat  menarik dan untuk menjawabnya adalah perlu. Maka, agama  itulah berfungsi untuk menjawab soalan-soalan ini.
- Memberi rasa kekitaan kepada sesuatu kelompok manusia.
Agama merupakan satu faktor dalam pembentukkan kelompok manusia. Ini adalah kerana sistem agama menimbulkan keseragaman bukan sahaja kepercayaan yang sama, malah tingkah laku, pandangan dunia dan nilai yang sama.
– Memainkan fungsi kawanan sosial.
Kebanyakan agama di dunia adalah menyarankan  kepada kebaikan. Dalam ajaran agama sendiri sebenarnya telah menggariskan kod etika yang wajib dilakukan oleh penganutnya. Maka ini dikatakan agama memainkan fungsi kawanan sosial

Fungsi Sosial Agama
Secara sosiologis, pengaruh agama bisa dilihat dari dua sisi, yaitu pengaruh yang bersifat positif atau pengaruh yang menyatukan (integrative factor) dan pengaruh yang bersifat negatif atau pengaruh yang bersifat destruktif dan memecah-belah (desintegrative factor). Pembahasan tentang fungsi agama disini akan dibatasi pada dua hal yaitu agama sebagai faktor integratif dan sekaligus disintegratif bagi masyarakat.

Fungsi Integratif Agama
Peranan sosial agama sebagai faktor integratif bagi masyarakat berarti peran agama dalam menciptakan suatu ikatan bersama, baik diantara anggota-anggota beberapa masyarakat maupun dalam kewajiban-kewajiban sosial yang membantu mempersatukan mereka. Hal ini dikarenakan nilai-nilai yang mendasari sistem-sistem kewajiban sosial didukung bersama oleh kelompok-kelompok keagamaan sehingga agama menjamin adanya konsensus dalam masyarakat.

Fungsi Disintegratif Agama
Meskipun agama memiliki peranan sebagai kekuatan yang mempersatukan, mengikat, dan memelihara eksistensi suatu masyarakat, pada saat yang sama agama juga dapat memainkan peranan sebagai kekuatan yang mencerai-beraikan, memecah-belah bahkan menghancurkan eksistensi suatu masyarakat. Hal ini merupakan konsekuensi dari begitu kuatnya agama dalam mengikat kelompok pemeluknya sendiri sehingga seringkali mengabaikan bahkan menyalahkan eksistensi pemeluk agama lain

Tujuan Agama
Salah satu tujuan agama adalah membentuk jiwa nya ber-budipekerti dengan adab yang sempurna baik dengan tuhan-nya maupun lingkungan masyarakat.semua agama sudah sangat sempurna dikarnakan dapat menuntun umat-nya bersikap dengan baik dan benar serta dibenarkan. keburukan cara ber-sikap dan penyampaian si pemeluk agama dikarnakan ketidakpahaman tujuan daripada agama-nya. memburukan serta membandingkan agama satu dengan yang lain adalah cerminan kebodohan si pemeluk agama
Beberapa tujuan agama yaitu :
  • Menegakan kepercayaan manusia hanya kepada Allah,Tuhan Yang Maha Esa (tahuit).
  • Mengatur kehidupan manusia di dunia,agar kehidupan teratur dengan  baik, sehingga dapat mencapai kesejahterahan hidup, lahir dan batin, dunia dan akhirat.
  • Menjunjung tinggi dan melaksanakan peribadatan hanya kepada Allah.
  • Menyempurnakan akhlak manusia.
Menurut para peletak dasar ilmu sosial seperti Max Weber, Erich Fromm, dan Peter L Berger, agama merupakan aspek yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Bagi umumnya agamawan, agama merupakan aspek yang paling besar pengaruhnya –bahkan sampai pada aspek yang terdalam (seperti kalbu, ruang batin)– dalam kehidupan kemanusiaan.
Masalahnya, di balik keyakinan para agamawan ini, mengintai kepentingan para politisi. Mereka yang mabuk kekuasaan akan melihat dengan jeli dan tidak akan menyia-nyiakan sisi potensial dari agama ini. Maka, tak ayal agama kemudian dijadikan sebagai komoditas yang sangat potensial untuk merebut kekuasaan. Yang lebih sial lagi, di antara elite agama (terutama Islam dan Kristen yang ekspansionis), banyak di antaranya yang berambisi ingin mendakwahkan atau menebarkan misi (baca, mengekspansi) seluas-luasnya keyakinan agama yang dipeluknya. Dan, para elite agama ini pun tentunya sangat jeli dan tidak akan menyia-nyiakan peran signifikan dari negara sebagaimana yang dikatakan Hobbes di atas. Maka, kloplah, politisasi agama menjadi proyek kerja sama antara politisi yang mabuk kekuasaan dengan para elite agama yang juga mabuk ekspansi keyakinan.
Namun, perlu dicatat, dalam proyek “kerja sama” ini tentunya para politisi jauh lebih lihai dibandingkan elite agama. Dengan retorikanya yang memabukkan, mereka tampil (seolah-olah) menjadi elite yang sangat relijius yang mengupayakan penyebaran dakwah (misi agama) melalui jalur politik. Padahal sangat jelas, yang terjadi sebenarnya adalah politisasi agama. Di tangan penguasa atau politisi yang ambisius, agama yang lahir untuk membimbing ke jalan yang benar disalahfungsikan menjadi alat legitimasi kekuasaan; agama yang mestinya bisa mempersatukan umat malah dijadikan alat untuk mengkotak-kotakkan umat, atau bahkan dijadikan dalil untuk memvonis pihak-pihak yang tidak sejalan sebagai kafir, sesat, dan tuduhan jahat lainnya.
Menurut saya, disfungsi atau penyalahgunaan fungsi agama inilah yang seyogianya diperhatikan oleh segenap ulama, baik yang ada di organisasi-organisasi Islam semacam  MUI. Ulama harus mampu mengembalikan fungsi agama karena Agama bukan benda yang harus dimiliki, melainkan  nilai yang melekat dalam hati.
Mengapa kita sering takut kehilangan agama, karena agama kita miliki, bukan kita internalisasi dalam hati. Agama tidak berfungsi karena lepas dari ruang batinnya yang hakiki, yakni hati (kalbu). Itulah sebab, mengapa Rasulullah SAW pernah menegaskan bahwa segala tingkah laku manusia merupakan pantulan hatinya. Bila hati sudah rusak, rusak pula kehidupan manusia. Hati yang rusak adalah yang lepas dari agama. Dengan kata lain, hanya agama yang diletakkan di relung hati yang bisa diobjektifikasi, memancarkan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari.Sayangnya, kita lebih suka meletakkan agama di arena yang lain: di panggung atau di kibaran bendera, bukan di relung hati.
Fungsi pertama agama, ialah mendefinisikan siapakah saya dan siapakah Tuhan, serta bagaimanakah saya berhubung dengan Tuhan itu. Bagi Muslim, dimensi ini dinamakan sebagai hablun minaLlah dan ia merupakah skop manusia meneliti dan mengkaji kesahihan kepercayaannya dalam menghuraikan persoalan diri dan Tuhan yang saya sebutkan tadi. Perbincangan tentang fungsi pertama ini berkisar tentang Ketuhanan, Kenabian, Kesahihan Risalah dan sebagainya.
Kategori pertama ini, adalah daerah yang tidak terlibat di dalam dialog antara agama. Pluralisma agama yang disebut beberapa kali oleh satu dua penceramah, tidak bermaksud menyamaratakan semua agama dalam konteks ini. Mana mungkin penyama rataan dibuat sedangkan sesiapa sahaja tahu bahawa asas agama malah sejarahnya begitu berbeda. Tidak mungkin semua agama itu sama. Manakala fungsi kedua bagi agama ialah mendefinisikan siapakah saya dalam konteks interpersonalia itu bagaimanakah saya berhubung dengan manusia. 
Ketika Allah SWT menurunkan ayat al-Quran yang memerintahkan manusia agar saling kenal mengenal (Al-Hujurat 49: 13), perbezaan yang berlaku di antara manusia bukan sahaja meliputi perbezaan kaum, malah agama dan kepercayaan. Fenomena berbilang agama adalah seiring dengan perkembangan manusia yang berbilang bangsa itu semenjak sekian lama. Maka manusia dituntut agar belajar untuk menjadikan perbedaan itu sebagai medan kenal mengenal, dan bukannya gelanggang krisis dan perbalahan.Untuk seorang manusia berkenalan dan seterusnya bekerjasama di antara satu sama lain, mereka memerlukan beberapa perkara yang boleh dikongsi bersama untuk menghasilkan persefahaman. Maka di sinilah, dialog antara agama (Interfaith Dialogue) mengambil tempat. Dialog antara agama bertujuan untuk menerokai beberapa persamaan yang ada di antara agama. Dan persamaan itu banyak ditemui di peringkat etika dan nilai.

CONTOH FENOMENA AGAMA DALAM LINGKUNGAN MANUSIA

KABUPATEN SELAYAR
Kabupaten Kepulauan Selayar merupakan salah satu Kabupaten di antara 24 Kabupaten/Kota di Propinsi Sulawesi Selatan yang letaknya di ujung selatan dan memanjang dari Utara ke Selatan. Daerah ini memiliki kekhususan, yakni satu-satunya Kabupaten di Sulawesi Selatan yang seluruh wilayahnya terpisah dari daratan Sulawesi Selatan dan lebih dari itu wilayah Kabupaten Kepulauan Selayar terdiri dari gugusan beberapa pulau sehingga merupakan wilayah kepulauan. Berdasarkan letak, Kepulauan Selayar merupakan kepulauan yang berada di antara jalur alternatif perdagangan internasional yang menjadikan Selayar secara geografis sangat strategis sebagai pusat perdagangan dan distribusi baik secara nasional untuk melayani Kawasan Timur Indonesia maupun pada skala internasional guna melayani negara-negara di kawasan Asia.
Pada kabupaten ini masyarakatnya mayoritas agama islam. Dimana bisa di rata-ratakan sekitar 80% masyarakat kabupaten selayar adalah Islam. Agama yang lain yang terdapat di kabupaten ini hanya Kristen, dan Budha. Agama hindu sangat jarang dijumpai di daerah ini. Itupun agama Budha hanya terdapat di dua desa (satu kecamatan) yaitu Kecamatan Passimasunggu yang bernama Desa Tongke-tongke dan Biring Balang. Kemudian agama Kristiani hanya tedapat di Ibu kota  Kabupaten yaitu Kota Benteng. Hampir keseluruhan agama Kristiani yang terdapat di Kabupaten Selayar yaitu keturunan Tiong-hoa. Yang menetap di selayar secara turun temurun.
Oleh sebab itu Kabupaten Selayar memiliki adat istiadat yang sangat identik dengan agama Islam, karena secara nyata memang masyarakatnya di dominasi agama Islam. Dimana seperti adat pada saat memperingati hari Nabi Besar Muhammad SAW. Dan ini berlangsung sangat lama, biasanya di mulai dari bulan Maret-awal Mei. Dan di kenal dengan nama (Mulu’). Serta mempertunjukkan adat maulid dari desa-desa. Yang dinamakan Pa’belu. Namun selain itu masyarakat di kabupaten ini juga, masih ada sebagian masyarakatnya yang mempercayai animisme dan dinamisme. Dimana masih banyak sebagian orang yang percaya terhadap benda-benda gaib, atau pohon-pohon gaib. Serta kuburan-kuburan sejarah. Mereka biasanya membawa sebuah sesajian sebagai tanda terima kasih atas apa yang mereka dapatkan, yang pernah mereka ungkapkan pada saat datang ke tempat yang mereka percayai memiliki kekuatan gaib dan meyakini akan mewujudkan apa yang mereka inginkan. Sedangkan terhadap agama kristiani atau budha itu tidak terlalu Nampak bagaimana mereka beribadah dan kepercayaan-kepercayaan lain yang mereka yakini selain agama yang benar-benar riil kita lihat.
Berbeda lagi dengan yang ada di pulau-pulau kecil kepulauan selayar itu sendiri, yaitu pulau Taka Bonerate. Yang secara etnis kawasan Taka Bonerate dihuni oleh dua suku dominan yaitu Bajo sekitar 55%, dan bugis sekitar 40%, selebihnya suku campuran Muna-buton dan Palue 5%. Mereka pada umumnya menganut agama Islam. Keyakinan ini sudah di peluk masyarakat setempat secara turun temurun dan menjadi agama dominan di kawasan tersebut. Meskipun demikian, kenyataan menunjukkan bahwa keyakinan mereka terhadap islam cenderung bersifat formalistic, adhoc dan literer, karena itu perilaku keagamaan mereka belum mampu meredam tindakan deskruktif yang mengancam kelestarian lingkungan pada wilayah kwasan taka bonerate tersebut, khususnya tempat wisata alamnya yang menjadikan Taka Bonerate terkenal di tingkat Internasional. Dimana mereka melakukan pemboman maupun pembiusan ikan-ikan karang. Akibatnya ekosistem terumbu karang di Taka Bonerate saat ini telah mengalami degradasi sampai tingkat yang cukup mengkhawatirkan. Bila kondisi ini dibiarkan terus, jelas tidak saja dapat mengancam kelestarian terumbu karang tetapi juga ekosistem laut secara luas dapat dirusak secara permanen. Karena dominannya paham keagamaan yang bersifat formalistik, adhoc, dan literer di kalangan masyarakat Taka Bonerate, sehingga melahirkan pandangan tentang islam yang cenderung “eksklusif”dan nyaris Jumud. Agama dipahami sekedar sebagai wacana ibadah dalam arti sempit yakni ritus-ritus yang membangun hubungan manusia dengan Tuhan (Theology). Sementara hubungan antara sesama manusia (sociology), apalagi hubungan manusia dengan alamnya (cosmology) sama sekali tidak diletakkan sebagai agenda penting dalam kerangka paham keagamaan mereka.
Paham keagamaan tersebut dianut dan terbangun oleh hamper sebagian besar masyarakat, karena materi dan metode dakwah yang dikembangkan para muballigh selama ini memang tidak menyentuh hal tersebut diatas. Sehingga agama bagi mereka dipahami sebagai sesuatu yang bersifat eskatologis dan transenden semata, tidak menyentuh apalagi menyapa kehidupan masyarakat dan lingkungannya. Kenyataan yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa karena letaknya yang spesifik, maka perlakuan dakwah mayarakat kepulauan semestinya dilakukan dengan pendekatan yang khas dan tipikal yang tidak semestinya dilakukan dengan perlakuan dakwah didaratan. Sebab pola interaksi, mata pencaharian, perilaku budaya masyarakat kepulauan untuk menyebut beberapa diantaranya sangat jauh berbeda dengan watak masyarakat daratan. Sementara terdapat kenyataan yang memperlihatkan bahwa baik materi maupun metode dakwah yang digunakan oleh para muballigh dikawasan tersebut cenderung sama dengan metode yang digunakan untuk komunitas di daratan.
Bahkan dalam tingkat yang lebih praktis terdapat satu paham keagamaan yang demikian kuat pengaruhnya terhadap masyarakat yakni apa yang oleh masyarakat kawasan kenal sebagai “Ajaran-ajaran Puang Rajuni”. Ajaran ini berakar pada satu pemikiran keagamaan salah seorang ulama yang hidup di pulau Rajuni kecil sekitar abad 20, yakni KH.Abdul Muin yang akrab disapa dengan Puang Rajuni. Meski tinggal di Pulau Rajuni kecil, Puang Rajuni berpengaruh luas hingga ke tujuh pulau disekitarnya. Menurut pengakuan Imam Rajuni Abdul Majid, yang juga putra Puang Rajuni, bahwa KH.Abdul Muin atau Puang Rajuni merupakan keturunan Pangeran Dipenegoro.
Masyarakat Selayar di kepulauan Taka Bonerate mrupakan penganut setia Tariqat al-muhammadiyah yang diajarkan Puang Rajuni, warisan dari orang tuanya  KH. Moh. Said. Salah satu ajarannya adalah setelah sholat jumat dilaksanakan lagi sholat dzuhur berjamaah. Model khutbahnya menggunakan teks bahasa arab dan setelah selesai sholat diadakan Tahlil (membaca la ilaha illallah) dengan suara keras sambil menggoyangkan kepala. Salahsatu pengaruh Puang Rajuni dalam kehidupan beragama adalah fatwanya yang sampai sekarang masih dipegang erat oleh masyarakat kepulauan Taka Bonerate yang ada di Selayar tentang anjuran untuk tidak melakukan aktivitas melaut (menangkap ikan) pada hari Jum’at sebab Jum’at adalah hari beribadah.
Bagi masyarakat Taka Bonerate hari jumat berbeda dengan hari lainnya. Sepanjang hari sabtu hingga kamis merupakan hari kerja, berlayar, bermalam di samudera, berselimut awan, dan berbantal ombak. Tetapi hari jum’at tiba. Semua itu tidak berlaku. Bagi mereka yang ingin melaut hari itu, akan berangkat selepas Jum’at. Tetapi sebagian besar warga memilih unutk libur. Paham keagamaan seperti itu sudah tertanam secara turun temurun dan bahkan telah menjadi tradisi dikalangan masyarakat nelayan Taka Bonerate samapai saat ini. Dalam kehidupan spiritual atau tepatnya mungkin religio, magisme, dan pengaruh Puang Rajuni cukup kuat, termasuk menyangkut etos kerja. Karena itu tidak heran banyak yang berguru padanya. Muridnya berjumlah ratusan, umumnya mereka yang bermukim pada kawasan Taka Bonerate. Menurut penuturan masyarakat setempat bila salah seorang punya hajat misalnya, atau hendak memulai satu usaha, puang Rajuni tidak terlupakan. Misalnya mencari hari baik untuk peluncuran perahu baru, menentukan arah bangunan rumah, hari perkawinan dan sebagainya tidak pernah terlepas dari nasehat Puang Rajuni. Puang Rajuni juga punya pengetahuan yang cukup tentang hari-hari baik untuk melaut.


Agama Sebagai Sistem Budaya
Geertz adalah orang pertama yang mengungkapkan pandangan tentang agama sebagai sebuah system budaya. Karya Geertz, "Religion as a Cultural System," dianggap sebagai tulisan klasik tentang agama. Pandangan Geertz, saat itu ketika teori-teori tentang kajian agama mandeg pada teori-teori besar Mark, Weber dan Durkheim yang berkutat pada teori fungsionalisme dan struktural fungsionalisme, memberikan arah baru bagi kajian agama. Geertz mengungkapkan bahwa agama harus dilihat sebagai suatu system yang mampu mengubah suatu tatanan masyarakat. Tidak seperti pendahulunya yang menganggap agama sebagai bagian kecil dari system budaya, Geertz berkayinan bahwa agama adalah system budaya sendiri yang dapat membentuk karakter masyarakat. Walaupun Geertz mengakui bahwa ide yang demikian tidaklah baru, tetapi agaknya sedikit orang yang berusaha untuk membahasnya lebih mendalam. Oleh karena itu Geertz mendefinisikan agama sebagai:
"A system of symbols which acts to establish powerful, pervasive and long-lasting moods and motivations of a general order of existence and clothing these conceptions with such an aura of factuality that the moods and motivations seem uniquely realistic."
Dengan pandangan seperti ini, Geertz dapat dikategorikan ke dalam kelompok kajian semiotic tradition warisan dari Ferdinand de Saussure yang pertama mengungkapkan tentang makna simbol dalam tradisi linguistik. Geertz mengartikan simbol sebagai suatu kendaraan (vehicle) untuk menyampaikan suatu konsepsi tertentu. Jadi bagi Geertz norma atau nilai keagamaan harusnya diinterpretasikan sebagai sebuah simbol yang menyimpan konsepsi tertentu. Simbol keagamaan tersebut mempunyai dua corak yang berbeda; pada satu sisi ia merupakan modes for reality dan di sisi yang lainnya ia merupakan modes of reality. Yang pertama menunjukkan suatu existensi agama sebagai suatu sistem yang dapat membentuk masyarakat ke dalam cosmic order tertentu, sementara itu sisi modes of reality merupakan pengakuan Geertz akan sisi agama yang dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan perilaku manusia.
Geertz menerapkan pandangan-pandangannya untuk meneliti tentang agama dalam satu masyarakat. Karya Geertz yang tertuang dalam The Religion of Java maupun Islam Observed merupakan dua buku yang bercerita bagaimana agama dikaji dalam masyarakat. Buku The Religion of Java memperlihatkan hubungan agama dengan ekonomi dan politik suatu daerah. Juga bagaimana agama menjadi ideologi kelompok yang kemudian menimbulkan konflik maupun integrasi dalam suatu masyarakat. Sementara itu Islam Observed ingin melihat perwujudan agama dalam masyarakat yang berbeda untuk memperlihatkan kemampuan agama dalam mewujudkan masyarakat maupun sebagai perwujudan dari interaksi dengan budaya lokal.
fenomena agama itu adalah dimensi sosiologisnya, sampai seberapa jauh agama dan nilai-nilai keagamaan memainkan peranan dan berpengaruh atas eksistensi dan operasi masyarakat manusia. Contoh konkretnya, seperti: seberapa jauh unsur kepercayaan mempengaruhi pembentukkan kepribadian pemeluknya, ikut mengambil bagian dalam menciptakan jenis kebudayaan, mempengaruhi terbentuknya partai-partai politik dan golongan nonpolitik, memainkan peranan dalam munculnya strata sosial, lahirnya organisasi, seberapa jauh agama ikut mempengaruhi proses sosial. Untuk mencapai maksudnya sosiologi agama menempuh cara dengan observasi, interview dan angket mengenai masalah-masalah keagamaan yang dianggap penting dan sanggup memberikan data yang dibutuhkan.


2.      Fenomena Kemerosotan Kualitas Agama
Pada acara-acara keagamaan di kampung-kampung, seringkali pembaca acara (moderator) menyampaikan rasa hormat dan terima kasih di antaranya kepada ulama. Padahal tidak jarang, sebutan ulama itu dimentahkan oleh realita acara tersebut. Ternyata yang dimaksud hanya guru ngaji atau guru madrasah biasa.
Surutnya kualitas makna ulama berbanding lurus dengan berkurangnya semangat untuk mencari, menghormati dan mengamalkan ilmunya. Masyarakat pun sepertinya kurang mendukung keberadaan orang alim yang benar-benar berilmu dan mendakwahkannya. Penceramah yang pandai memancing gelak-tawa hadirin lebih disukai. Jadilah majelis taklim seperti tontonan lawak, lantaran begitu derasnya tawa yang terdengar. Apalagi bila ditambah dengan ulah buruk sebagian orang yang sudah meraih gelar ulama sehingga kian menambah terpuruknya citra Ulama itu sendiri. Sehingga, manusia bergelar ulama dengan makna sesungguhnya yang berorientasi kepada Allâh Ta'âla (Ulama Rabbani) menjadi makhluk langka.
Ulama adalah panutan dan tumpuan terhadap persoalan-persoalan yang menjadi keluh-kesah masyarakat. Pada zaman globalisasi ini, permasalahan yang dihadapi semakin kompleks dan aneh-aneh. Dalam hal ini, para ahli hukum agama Islam (fuqaha) sebenarnya tidak boleh santai dalam mendalami ilmu. Apalagi sampai berhenti, merasa puas dengan apa yang sudah dimiliki. Kondisi ini sedikit demi sedikit kian parah, tatkala insan-insan yang sudah terdaulat mengerti masalah agama, tidak tanggap terhadap persoalan-persoalan baru dan masih fanatik dengan satu kitab kuningnya.
Akibatnya, pengetahuan agama berjalan di tempat, perkembangan ilmu agama tidak seimbang dengan perkembangan dinamika sosial yang bergerak cepat. Zakat saham, solusi dari bank ribawi, bayi tabung, sewa rahim, transaksi via internet dan deretan persoalan baru yang sudah akrab dengan denyut kesibukan masyarakat menuntut kesigapan para Ulama. Masalah-masalah yang dianggap kecil dan ringan saja masih memerlukan kehati-hatian untuk menjawabnya, terlebih lagi persoalan-persoalan kontemporer yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Akan tetapi bagi yang kurang takut kepada Allâh Ta'âla, akan memaksakan diri untuk memutar-mutar otak dan memeras kepalanya ketika menghadapi suatu pertanyaan; padahal sebenarnya dia belum pernah tahu. Akan tetapi terdorong oleh ego tinggi dan rasa malu bila tidak bisa menjawab, maka akhirnya terpaksalah muncul jawaban dari bibirnya. Keadaan semacam ini sangat memprihatinkan. Tatkala orang secara serampangan mengeluarkan fatwa tentang masalah agama. Padahal ia tidak mengetahuinya atau kurang memahaminya.
Ketika orang mengatakan ini boleh, itu tidak boleh, itu halal, itu haram, pada hakekatnya ia telah berkata atas nama Allâh Ta'âla, Dzat yang berwenang menetapkan aturan hukum di alam semesta ini. Karena itu, setiap orang harus mengerem lidah dari berfatwa tentang permasalahan yang tidak ia ketahui dengan baik. Kehidupan beragama pada dasarnya merupakan kepercayaan terhadap keyakinan adanya kekuatan ghaib, luar biasa atau supranatural yang berpengaruh terhadap kehidupan individu dan masyarakat, bahkan terhadap segala gejala alam. Kepercayaan beragama yang bertolak dari kekuatan ghaib ini tampak aneh, tidak alamiah dan tidak rasional dalam pandangan individu dan masyarakat modern yang terlalu dipengaruhi oleh pandangan bahwa sesuatu diyakini kalau konkret, rasional, alamiah atau terbukti secara empiric dan ilmiah.
Ketergantungan masyarakat dan individu pada kekuatan ghaib ditemukan dari zaman purba sampai ke zaman moden ini, kepercayaan itu diyakini kebenarannya sehingga ia menjadi kepercayaan keagamaan atau kepercayaan religius. Kepercayaan terhadap sucinya sesuatu itu dinamakan dalam antropologi dan sosiologi agama dengan mempercayai sifat sacral pada sesuatu itu, mempercayai sesuatu sebagai yang suci atau sacral juga cirri khas kehidupan beragama, adanya aturan kehidupan yang dipercayai berasal dari Tuhan juga termasuk kehidupan beragama. Semuanya ini menunjukan bahwa kehidupan beragama aneh tapi nyata, dan merupakan gejala universal, ditemukan di mana dan kapan pun dalam kehidupan individu dan masyarakat.
Namun dalam fenomena social budaya, dalam kehidupan umat islam di zaman modern ini, kehidupan beragama menjadi menciut dalam aspek kecil dan kehidupan sehari-hari, yaitu yang berhubungan dengan yang ghaib dan ritual saja. Kehidupan beragama umat islam dewasa ini menjadi subsistem social budayanya. Fenomena penciutan beragama ini karena pengaruh budaya modernism dan sekularisme. Walaupun pengaruh modernism dan sekularisme demikian kuat, ia juga menimbulkan gerakan dan aliran keagamaan dalam rangka melawan dominasi modernism dan sekularisme tersebut, seperti aliran skripturalis dan gerakan terror. Maraknya aliran kebatinan, occultism, aliran ekslusif lainnya menjadikan fenomena kehidupan beragama makin kompleks. Semua ekslusivitas dan kompleksitas kehidupan beragama ini menjadikannya menarik untuk diteliti secara antropologis. Kajian antropologi terhadap berbagai aliran ekslusif juga akan menjelaskan akar-akar budaya dari objek yang dikaji, secara mencoba memahami gejala tesebut dalam konteks budaya yang bersangkutan.
Dinamika agama juga dapat disaksikan melalui fenomena lahirnya agama-agama baru. Agama-agama besar yang eksis di dunia sekarang ini dalam sejarahnya merupakan agama-agama baru di masyarakat pada awal kelahirannya. Pada konteks klasik, bisa diambil misal pertumbuhan agama Budha yang dianggap baru ketika Siddharta Gautama menyebarkan ajaran-ajarannya di tengah masyarakat India yang kala itu umumnya beragama Hindu. Adapun pada konteks kontemporer, kelahiran agama-agama baru dapat dilihat antara lain melalui kemunculan Aum Shinrikyo di Jepang, Scientology di Jerman dan Falungong di China. Menariknya, lahirnya agama-agama baru tersebut rata-rata mendapatkan kecaman sebagai ajaran yang akan merusak tatanan yang sudah mapan di masyarakat. Islam contohnya, ketika pertama kali diserukan Nabi Muhammad di tengah-tengah masyarakat Arabia juga mendapat reaksi dan tuduhan sebagai ajaran yang mengancam eksistensi kepercayaan keagamaan sekaligus keharmonisan hidup penduduk setempat.
Secara umum, masyarakat Indonesia terkenal memiliki tingkat religiositas yang tinggi. Hal ini terbukti dengan keberadaan agama di negeri ini yang diakui dan dilindungi pemerintah sesuai dengan undang-undang. Dengan bebas pemeluk dari berbagai agama melakukan aktifitas yang bernuansa rohani sesuai dengan keyakinannya. Hari-hari raya keagamaan dijalani dengan begitu serius oleh setiap pemeluknya. Bahkan tidak jarang para pejabat pemerintah menghadiri perayaan agama tertentu sebagai bukti pengakuan dan dukungan nyata. Tentu saja, hal ini menggembirakan semua pihak, secara khusus masyarakat yang meyakininya.
Namun demikian, ada hal-hal yang perlu kita dicermati dengan seksama, yakni realita yang ada dalam masyarakat pemeluk suatu agama. Saya mengamati hal ini dengan sungguh serius, tentang adanya perbedaan mendasar antara fenomena dan realita kehidupan umat beragama.
Dalam kehidupan sosial, agama memang tidak hanya menjadi legitimasi etik bagi pemeluknya, tetapi juga memiliki peran penting dalam ranah kehidupan sosial masyarakat, ekonomi, demikian pula dalam ranah politik. Dengan kata lain, peran agama dalam masyarakat  kita  cukup menguat, dan tercermin baik pada struktur masyarakat maupun dalam struktur politik bernegara. Fenomena tersebut membenarkan prediksi Jhon Naisbit tentang “kebangkitan agama-agama” pada abad 21 yang ditandai dengan makin meningkatnya hasrat masyarakat menjadikan agama sebagai sumber utama rujukan dalam setiap ranah kehidupan. Namun di sisi lain, kebangkitan agama menjadi pergumulan atau kekwatiran tersendiri. Pasalnya, kebangkitan agama yang terjadi, agaknya baru sebatas kebangkitan dalam arti formal, yaitu peningkatan secara  kuantitatif  penganut agama di tengah masyarakat. Kebangkitan agama belum sepenuhnya disertai dengan komiitmen untuk menjalankan ajaran agama secara substantif. Kebanyakan orang masih mengamalkan simbol-simbol ritual agama yang tidak disertai kesadaran spiritual. Model pengenalan agama yang menekankan simbol-simbol ritual ini berpotensi menampilkan wajah kehidupan beragama yang kurang angun atau bersahabat  dan tidak jarang terkesan menyeramkan karena semangat penuh fanatik dari masing-masing pengikut agama terkadang memicu pecahnya konplik antar umat  beragama. Disinilah kebangkitan agama memiliki dua sisi yang harus diperhatikan sekaligus diwaspadai. Karena agama berpotensi menjadi altruism masyarakat atas nilai-nilai, sekaligus berpotensi pula menjadi komuditas sentimental terhadap realitas yang penuh keragaman budaya etnis dan agama. Agama yang seharusnya menjadi inspirasi bagi manusia untuk membangun hidup berkeadaban belum menyentuh problem real kemasyarakatan. Para agamawan masih cenderung lebih memilih tema surga dan keselamatan di akhirat ketimbang membicarakan atau melakukan dialog dan forum kajian ilmiah tentang sikap apa yang seharusnya dimiliki seseorang yang beragama dalam membangun peradaban manusia seutuhnya. Lebih parah lagi masih banyak  dari kalangan agamawan menjadikan agama hanya sebagai  instrument pembangunan kekuatan politik untuk kepentingan pribadi. Doktrin agama diartikan/diiterpretasikan untuk melegitimasikan kepentingan pribadi semata dan menghancurkan bangunan stabilitas sosial, dan masyarakat hanyut dalam hegemoni  kepentingan para tokoh agamanya yang terkadang tidak jujur. Bahkan tidak jarang kelompok agama tertentu dalam masyarakat menyakiti kelompok yang lainnya dengan mengatasnamakan “kebenaran”,  “mission” serta istilah lain yang kerap diperdengarkan dan menjadi materi kajian yang sering diperbincangkan di tengah-tengah masyarakat oleh tokoh agama melalui ceramah-ceramahnya.
Kehadiran Agama-agama di Indonesia
     Di tengah fenomena beragama dalam masyarakat plulalistis, para agamawan adalah ujung tombak dalam pembinaan umat masing-masing. Mereka bukan saja pemimpin, melainkan juga Pembina, pendidik dan penyampai pokok-poko ajaran dan keyakinan agama mereka pada umat masing-masing. Dalam masyarakat Indonesia yang paternalistic para pemimpin agama, seperti Pastor, Pendeta, Ulama, Guru Agama, Da'i/Mubaligh dan Bikhu adalah tokoh panutan. Apa yang diperbuat, disampaikan, dan diajarkan oleh agamawan pada umat sangat mempengaruhi sikap dan prilaku keberagamaan umat.
Kenyataan secara umum memperlihatkan, masih banyak khotbah attau ceramah yang disampaikan oleh para agamawan masih mengandung misperception dan misunderstanding terhadap agama atau keyakinan lain. Bahkan terkadang masih muncul khotbah aatau ceramah yang bernada hasutan, fitnahan dan provokatif terhadap agama lain. Hal ini memperlihatkan bahwa kesadaran tentang realitas pluralitas masyarakat dan agama dan pentingnya toleransi belum memadai. Rendahnya kesadaran terhadap realitas pluralitas masyarakat berpotensi bukan saja mengganggu kehidupan bersama dalam masyarakat, melainkan juga berpotensi bagi kekerasan terhadap kemanusiaan.
Dengan kata lain, kekerasan terhadap orang lain justru bermula dari kekerasan di  dalam pikiran yang pada saatnya akan terwujud dalam bentuk kekerasan fisik, atau perlakuan diskriminatif terhadap sesama manusia, sesama anak bangsa, sesama umat beragama. Pengalaman dan peristiwa konplik bernuansa SARA yang pernah terjadi seperti Ambon, Poso, Sampit, dan sebagainya memperlihakan peran yang signifikan dari para agamawan/tokoh agama dalam mengobarkan semangat kebencian atau permusuhan terhadap kelompok lain.

Agama dan Hak Asasi Manusia

Dalam konferensi Agama dan Perdamaian yang berlangsung di Kathmandu, Nepal 28 Oktober  2 Nopember 1991, dikatakan bahhwa peranan agama dalam kehidupan manusia adalah sangat menentukan. Alasannya, karena agama adalah mata air kehidupan tempat manusia menemukan makna kehidupan yang terdalam. Ini menandakan bahwa beragama adalah salah satu hak asasi manusia, karena didalamnya manusia menemukan pandangan hidup dan inspirasi yang dapat menjadi landasan yang kokoh untuk pembentukan nilai, harkat dan martabat manusia. Begitu pentingnya peranan agama, maka dalam mengisi era globalisasi atau abad 21 yang maju dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia akan mendambakan peranan agama sebagai petunjuk rohani untuk mengatasi keterasingan dan kegersangan batiniah.
Dengan demikian, agama menjadi sebuah komitmen terdalam bagi manusia untuk mencapai harmoni dan perdamaian bagi manusia di masa kini maupun di masa mendatang. Dengan demikian pula, peranan agama bukanlah terutama sekedar untuk melestarikan nilai-nilai tradisional, tetapi berperan lebih sebagai suatu kekuatan yang transformatif. Artinya agama berada bukan untuk memuja masa lampau, tetapi menjadi inspirasi dan mampu menciptakan masa depan. Inilah peranan agama-agama dalam kehidupan manusia pada masa kini maupun dimasa mendatang, sehingga dalam menghadapi dunia modern ini dimana terjadi  kebangkitan agama-agama, hak asasi manusia perlu dijamin; karena pada dasarnya di masa dan di abad manapun manusia itu adalah manusia yang beragama.  Kesadaran dan pengakuan bahwa beragama adalah hak asasi manusia, hendaknya berlanjut pula kepada kesadaran terhadap realitas pluralitas masyarakat; kesadaran membangun kehidupan bersama yang saling menghormati dan saling menghargai berbagai  perbedaan agama, kepercayaan, bahkan keyakinan; serta melahirkan komitmen terhadap kehidupan bersama yang mengupayakan dan memperjuangkan perdamaian dan keadilan bagi masyarakan secara keseluruhan.
Oleh karena itu, kecendrungan mempertuhankan agama,  pemutlakkan agama sendiri/tertentu dan melihat orang lain salah, dosa dan sesat dapat dihindari. Karena akibat dari sikap pemutlakkan agama menjadi tragis. Ada keluarga yang pecah karena agama. Ada Negara yang pecah karena agama. Orang saling membenci bahkan saling membunuh karena agama. Tragis dan ironis, karena semua agama mengajarkan welas asih dan kasih saying. Tetapi jika penganut-penganutnya memutlakkan agama sendiri sebagai tujuan, maka agama berwajah seram. Dan agama berpotensi mengotak-ngotakkan manusia, menyekat-menyekat, memisah-misahkan manusia. Saling menajiskan satu dengan yang lain.

Keberadaan agama atau kepercayaan tidak dapat dilepaskan dari kehidupan masyarakat. Manusia pada awalnya menyadari bahwa ada kekuatan yang melampaui kekuatan yang ada pada dirinya. Karenanya manusia mulai menyembah dewa-dewa; animisme dan dinamisme mulai berkembang. Bersamaan dengan kesadaran dan tindakan penyembahan ini, manusia lalu menciptakan agama dan secara serentak pula bersamaan mereka menciptakan karya-karya seni. Kesadaran diri sebagai manusia jelas tidak dapat dilepaskan dari adanya manusia lain di luar dirinya yang kemudian membentuk masyarakat atau kelompok manusia.
Seorang individu menyadari dirinya sebagai manusia ketika ia mengalami manusia lain yang ada di luar dirinya. Karya seni, juga agama, adalah hasil dari proses kreatif-produktif masyarakat melalui pengembangan kemampuannya sebagai mahluk rasional (homo sapiens) tetapi sekaligus manusia spiritual (homo religius). Agama sebagai kepercayaan kolektif dapat dikatakan terbentuk setelah adanya masyarakat. Agama tidak dapat dipandang sebagai kepercayaan individu belaka yang berusaha mengenali kekuatan di luar dirinya lepas dari masyarakat. Pokok tersebut menjadi jelas bahwa agama dapat dibedakan dari kepercayaan pribadi dalam hal sifat sosial-kolektif yang dimilikinya.
Agama dalam pengertian inilah yang hendak dihubungkan dengan masyarakat. Masyarakat muncul ketika ada pergeseran cara hidup manusia dari nomaden menjadi manusia menetap, dari berburu dan meramu untuk memenuhi kebutuhan hidup menjadi bercocok tanam. Saat itulah manusia mulai berkelompok dan menemukan dirinya berada dalam ketegangan antara kepentingannya dengan kepentingan orang lain dalam kelompok itu. Di satu sisi masyarakat yang terbentuk itu mendorong terbentuknya peradaban manusia yang mengangkat harkat dan martabatnya sebagai makhluk berakal budi ke tingkat yang lebih tinggi. Kenyataan masyarakat yang terbagi dalam kelas-kelas sosial mendorong sekelompok orang dari kelas yang tertindas untuk melarikan diri dari keadaan struktural masyarakat yang represif dan kemudian melarikan impian dan harapannya kepada agama. Agama adalah “…usaha manusia untuk menemukan makna dan arti kehidupan, di tengah derita yang menimpa wujud kasadnya.” Keterkaitan yang demikian erat antara agama dan masyarakat ini berdampak pada pemanfaatan fungsi kolektif agama untuk menggerakkan masyarakat demi perubahan sosial atau juga demi tujuan tertentu yang entah menguntungkan atau merugikan masyarakat itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar