Rabu, 23 Januari 2013

ISLAMIC STUDIES DAN KLASIFIKASI ILMU


A.    Latar Belakang Masalah

Ketegangan atau tension masih tampak begitu jelas antara sisi normativitas dan historisitas keberagamaan di berbagai perguruan tinggi agama islam di tanah air.Untuk mengurangi ketegangan yang seringkali tidak produktif, penulis menawarkan paradigma keilmuan interkoneksitas dalam studi keislaman kontemporer di Peguruan Tinggi. Berbeda sedikit dari paradigma integrasi keilmuan yang seolah-olah berharap tidak akan ada lagi ketegangan yang di maksud, yakni dengan cara meleburkan dan melumatkan yang satu ke dalam lainnya, baik dengan cara meleburkan dan melumatkan yang satu ke dalam lainnya, baik dengan cara melebur dan melumatkan yang satu ke dalam yang lainnya, baik dengan cara meleburkan sisi normativitas-sakralitas keberagamaan secara menyeluruh masuk ke wilayah historitas-profanitas atau sebaliknya membenamkan dan meniadakan seluruhnya sisi historisitas keberagamaan islam ke wilayah normativitas sakralitas tanpa reserve, maka penulis menawarkan paradigma interkoneksitas yang lebih modest (mampu mengukur kemampuan diri sendiri), humility (rendah hati) dan human (manusiawi).
       Paradigma interkoneksitas ini berasumsi bahwa untuk memahami kompleksitas fenomena kehidupan yang di hadapi dan di jalani manusia, setiap bangunan keilmuan apapun, baik keilmuan agama (termasuk agama islam dan agama-agama lain, keilmuan sosial,humaniora, maupun kelaman tidak dapat berdiri sendiri.Begitu ilmu pengetahuan tertentu mengklaim dapat berdiri sendiri, merasa dapat menyelesaikan persoalan secara sendiri, tidak memerlukan bantuan dan sumbangan dari ilmu yang lain maka self/sufficiency ini cepat atau lambat akan berubah menjadi narrowmindedness untuk tidak menyebutnya fanatisme partikularitas disiplin keilmuan.Kerja sama saling tegur sapa saling membutuhkan, saling koreksi dan saling keterhubungan antar disiplin keilmuan akan lebih dapat membantu manusia memahami kompleksitas kehidupan yang di jalani dan di pecahkan persoalan yang di hadapinya.
       Secara epistemologi, paradigma interkoneksitas merupakan jawaban atau respon terhadap kesulitan-kesulitan yang di rasakan selama ini, yang di wariskan dan di teruskan selama berabad-abad dalam peradaban islam tentang adanya dikotomi pendidikan umum dan pendidikan agama. Masing-masing berdiri sendiri-sendiri, tanpa merasa perlu saling bertegur sapa. Kesulitan epistimologis ini rupanya berdampak secara struktural politis dengan berdirinya Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Agama di awal kemerdekaan Republik Ini. Terpisahnya dua Depantemen ini, khususnya dalam hal pendidikan menambah sempurnanya dikotomi di maksud. Dari waktu ke waktu, upaya untuk mendekatkan kembali jurang pemisah atau gap antara keduanya, khususnya dalam wilayah pendidikan semakin tampak nyata.
       Paradigma interkoneksitas, secara aksiologis, hendak menawarkan pandangan dunia (world view) manusia beragama dan ilmuan yang baru, yang lebih terbuka, mampu membuka dialig dan kerjasama, transparan, dapat di pertanggung jawabkan secara publik dan berpandangan ke depan.Secara antologis, hubungan antar berbagai disiplin keilmuan menjadi semakin terbuka dan cair, meskipun blok-blok dan batas-batas wilayah antara budaya pendukung keilmuan agama bersumber pada teks-teks ( hadlarah al-nash) dan budaya pendukung keilmuan faktual historis-empiris yakni ilmu-ilmu sosial dan ilmu kealaman ( hadlarah al illm) serta budaya pendukung keilmuan etisfilosofis (hadlarah al-falsafah) masih tetap saja ada. Hanya saja, cara berfikir dan sikap ilmuan yang membidangi dan menekuni ilmu-ilmu ini yang perlu berubah. Tegur dan saling menyapa antara ketiganya di dalam birokrasi pendidikan, baik pada level prodi, jurusan maupun fakultas, dan lebih-lebih lagi dalam diri ilmuan, dosen, akademisi atau researchers, yang termanifestasikan dan teraktualisasikan dalam keanekaragaman perspektif yang digunakan untuk mengkaji dan menganalisis persoalan, program penelitian, tatap muka perkuliahan, pengembangan kurikulum, silabi maupun proses dan prosedur perkuliahan serta evaluasi pembelajarannya menjadi shibghah dan core values yang harus di pegang teguh dan di kembangkan terus menerus oleh para pelaku transformasi.
       Pada tataran normativitas, studi studi islam agaknya masih banyak terbebani oleh misi keagamaan yang bersifat memihak, romantis, dan apologis, sehingga kadar muatan analisis, kritis, metodologis, historis, empiris, terutama dalam menelaah teks-teks keagamaan produk sejarah terdahulu kurang begitu di tonjolkan, kecuali dalam lingkungan para peneliti tertentu yang masih sangat terbatas.
Dengan demikian, secara sederhana dapat di pahami bahwa dari sudut normatif islam adalah wahyu Allah yang bersifat mutlak (absolut), sehingga kepadanya tidak dapat di berlakukan paradigma ilmu pengetahuan yang nota bene bersifat relatif (nisbi). Jadi sebagai agama, islam lebih bersifat memihak, romantis, apologis dan subyektif.Namun, jika di lihat dari sudut historis yaitu islam dalam arti yang di praktekkan oleh manusia serta tumbuh dan berkembang dalam sejarah kehidupan manusia, maka islam dapat di katakan sebagai sebuah disiplin ilmu yaitu ilmu keislaman atau studi islam.
Islam sebagai agama sesungguhnya memiliki banyak dimensi, seperti yang di ungkapkan oleh Harun Nasution.yakni tidak hanya dimensi ritual (ibadah khas) yang terkandung dalam islam, tetapi juga terkandung dimensi ekonomi, politik, pendidikan, budaya, sosial atau kemanusiaan (kemasyarakatan). Justru dimensi yang terakhir ini memiliki porsi yang lebih besar di dalam al-quran sebagai referensi utama umat islam. Hasil interpretasi umat islam terhadap wahyu allah yang ada di dalam al-quran memunculkan islam dalam frame yang baru, yaitu islam historis. Maksudnya adalah islam yang di praktekkan dalam kehidupan umat manusia.
Wajar islam (islam historis) yang seperti ini tentu tidak sama dengan islam normativ (wahyu Allah). Jika islam normatif bersifat mutlak (absolut) dan pasti benar, maka islam historis masih perlu di pertanyakan kebenarannya.sebab, sebagai hasil interpretasi umat manusia terhadap islam normatif, islam historis tentu tidak sepi dari kesalahan dan manipulasi tangan manusia yang memiliki hawa nafsu serta tendesi-tendesi tertentu.Oleh sebab itu, mempelajari studi islam menjadi sangat penting agar pemahaman kita terhadap ajaran islam menjadi sangat penting agar pemahaman kita terhadap ajaran islam menjadi parsial, tetapi komprehensif.Pemahaman yang seperti ini sangat di perlakukan bagi munculnya pengamalan ajaran islam yang komprehensif pula. Sehubungan dengan ini, Nurcholis Madjid pun mengatakan bahwa yang amat di perlukan oleh umat islam melalui para sarjananya adalah keberanian untuk menelaah kembali ajaran-ajaran islam yang merupakan hasil interaksi sosial umat islam dalam sejarah(islam historis).
Selain itu, ada pula istilah sains islam yang menurut Husesen Nasr adalah sains yang dikembangkan oleh kaum muslimin sejak abad islam kedua, yang merupakan prestasi besar dalam peradapan islam. Selama kurang lebih tujuh ratus tahun, sejak abad kedua sebelum masehi, peradaban islam mungkin merupakan peradaban yang paling produktif di bandingkan peradaban mana pun di wilayah sains dan sains islam berada pada garda depan dan berbagai kegiatan, mulai dari bidang kedokteran sampai astronomi.
Dengan demikian, sains islam mencakup berbagai pengetahuan modern seperti kedokteran, astronomi, matematika, fisika,dan berbagai yang di bangun berdasarkan nilai-nilai islami.Sementara studi islam adalah pengetahuan yang di rumuskan dari ajaran islam yang di praktekkan dalam sejarah dan kehidupan manusia, sedangkan pengetahuan agama adalah pengetahuan yang sepenuhnya diambil dari ajaran-ajaran Allah dan rasulnya secara murni tanpa dipengaruhi sejarah, seperti ajaran tentang akidah, ibadah, membaca al-quran dan akhlak.
       Dari ketiga kategori ilmu keislaman tersebut, maka muncullah apa yang di kenal dengan madrasah diniyah, yaitu lembaga pendidikan yang secara khusus mengajarkan pengetahuan agama, Madrasah ibtidaiyah, tsanawiyah, aliyah, dan institut agama islam yang di dalamnya di ajarkan studi islam yang meliputi tafsir, hadist, ilmu kalam, filsafat, tasawuf, hukum islam, sejarah dan kebudayaan islam, dan pendidikan islam. Kemudian muncul pula universitas islam yang ada di dalamnya di ajarkan berbagai ilmu pengetahuan modern yang bernuansa islam yang selanjutnya di sebut sains islam.
       Untuk itulah penulis akan sedikit menjelaskan tentang studi islam dan Pendekatan dalam kajian islam:normatif atau historis (membangun kerangka dasar  filsafat ilmu-ilmu keislaman) dan filsafat ilmu-ilmu keislaman
A.    Observasi Kritis Terhadap Ilmu-ilmu Keislaman

Menurut pengamatan Fazlur Rahman pada bukunya Islam dan Modernity telah mencoba untuk menggunakan pendekatan yang lebih kritis dalam membahas ilmu-ilmu keislaman. Telah mengidentifikasi dan memberi karakteristik pada ilmu-ilmu keislaman sebagai disiplin ilmu yang bersifat sangat repetitif, selalu mengulang-ulang,sarat dengan literatur yang hanya berupa komentar, penjelasan,terhadap suatu karya dan komentar terhadap komentar tersebut, serta sangat sedikit membuahkan pikiran-pikiran maupun gagasan baru.Pengumpulan intelektual islam, menurut pandangannya selama ini tidak di arahkan untuk pencapaian-pencapaian gagasan yang baru.melainkan hanya di manfaatkan untuk mempertahankan pengetahuan yang telah ada,metode perdebatan lalu di anggap sebagai jalan yang terbaik untuk memenangkan suatu pendapat dan hampir menjadi metode pengganti bagi usaha-uasaha intelektual murni untuk memunculkan dan menangkap isu-isu aktual lainnya.

B.     Pengumpulan teori-teori dalam wacana keilmuan: sepintas menengok problem/ masalah pertumbuhan ilmu
Pertumbuhan, perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan, yang sesungguhnya  adalah problem yang akut dalam ilmu-ilmu keislaman yang merupakan tema sentral dalam pembahasan akademik pada domain filsafat ilmu. Tidak mungkin bagi penulis di sini untuk menguraikan secara panjang lebar seluruh perdebatan yang berlagsung selama beberapa dekade terakhir dalam di siplin yang bercorak sangat filosofis. Akan tetapi, penulis akan memfokuskan diri pada pembahasan mengenai sifat dan watak dasar teori-teori ilmiah beserta metodologi-metodologinya dalam hubungannya dengan pertumbuhan dan perkembangan ilmu.disini penulis tidak akan dapat juga menyajikan gambaran situasi perdebatan secara utuh, oleh karena itu akan di sampaikan saja gambaran selintas mengenai perdebatan yang telah terjadi.

C.     Reserch program dalam terminologi lakatos: mempertegas Wilayah historitas ilmu-ilmu keislaman
       Satu implikasi dan konsekuensi logis dari hasil temuan Rahman dapat di ekspresikaN lewat sebuah pertanyaan “apakah ilmu-ilmu keislaman membentuk sebuah reserch program yang melibatkan teori-teori yang satu sama lain saling kompetisi, sebagai mana umumnya terjadi pada cabang-cabang ilmu yang lain? Rahman sendiri tidak memberikan jawaban untuk pertanyaan di atas.Namun demikian, nampak jelas rahman memberikan sinyal ke arah mana hendaknya research program ilmu-ilmu keislaman di bawa, di bangun kembali dan di formulasikan ulang.

D.    Keterkaitan normativitas dan historitas dalam studi keislaman: Lingkaran hermenetik antara bahasa, pemikiran, dan kesejarahan Dalam ilmu-ilmu keislaman

       Dari perspektif filsafat ilmu, setiap ilmu, baik itu ilmu alam,humaniora, sosial agama atau ilmu-ilmu keislaman, harus diformulasikan dan di bangun di atas teori-teori yang berdasarkan pada kerangka metodologi yang jelas.Dalam pengertian ini, teori-teori sebagai wujud ekspresi intelektual yang seharusnya tidak boleh di sakralkan dan dokmatif.dengan demikian kita hanya akan berhubungan dengan teori-teori, ide-ide, kerangka kerja, formula-formula, prinsip-prinsip, kepercayaan-kepercayaan atau asumsi-asumsi, dasar, paradigma dan apapun namanya, yang dapat di uji, di evaluasi, di kritisi dan didiskusikan secara akademik.Berdasarkan teori-teori yang telah ada lebih dahulu, riset keilmuan dapat tumbuh mencapai perkembangan dan kemajuan.


1.      Studi Islam

Para ahli masih berbeda pendapat tentang apakah studi islam (agama) dapat di masukkan ke dalam bidang ilmu pengetahuan. Hal ini mengingat sifat dan karakteristik antara ilmu pendidikan dan agama berbeda. Menurut Amin Abdullah pangkal tolak kesulitan pengembangan wilayah kajian studi islam ( Islamic Studies atau Dirasah Islamiyah) berakar pada kesukaran seorang agamawan untuk membedakan antara yang normativitas dan historitas. Pada tataran normativitas kelihatan islam kurang pas untuk di katakan sebagai disiplin ilmu, sedangkan untuk tataran historistis tampaknya tidaklah salah.
Pada tataran normativitas, studi studi islam agaknya masih banyak terbebani oleh misi keagamaan yang bersifat memihak, romantis, dan apologis, sehingga kadar muatan analisis, kritis, metodologis, historis, empiris, terutama dalam menelaah teks-teks keagamaan produk sejarah terdahulu kurang begitu di tonjolkan, kecuali dalam lingkungan para peneliti tertentu yang masih sangat terbatas.
Dengan demikian, secara sederhana dapat di pahami bahwa dari sudut normatif islam adalah wahyu Allah yang bersifat mutlak (absolut), sehingga kepadanya tidak dapat di berlakukan paradigma ilmu pengetahuan yang nota bene bersifat relatif (nisbi). Jadi sebagai agama, islam lebih bersifat memihak, romantis, apologis dan subyektif.Namun, jika di lihat dari sudut historis yaitu islam dalam arti yang di praktekkan oleh manusia serta tumbuh dan berkembang dalam sejarah kehidupan manusia, maka islam dapat di katakan sebagai sebuah disiplin ilmu yaitu ilmu keislaman atau studi islam.
Islam sebagai agama sesungguhnya memiliki banyak dimensi, seperti yang di ungkapkan oleh Harun Nasution.yakni tidak hanya dimensi ritual (ibadah khas) yang terkandung dalam islam, tetapi juga terkandung dimensi ekonomi, politik, pendidikan, budaya, sosial atau kemanusiaan (kemasyarakatan). Justru dimensi yang terakhir ini memiliki porsi yang lebih besar di dalam al-quran sebagai referensi utama umat islam. Hasil interpretasi umat islam terhadap wahyu allah yang ada di dalam al-quran memunculkan islam dalam frame yang baru, yaitu islam historis. Maksudnya adalah islam yang di praktekkan dalam kehidupan umat manusia.
Wajar islam (islam historis) yang seperti ini tentu tidak sama dengan islam normativ (wahyu Allah). Jika islam normatif bersifat mutlak (absolut) dan pasti benar, maka islam historis masih perlu di pertanyakan kebenarannya.sebab, sebagai hasil interpretasi umat manusia terhadap islam normatif, islam historis tentu tidak sepi dari kesalahan dan manipulasi tangan manusia yang memiliki hawa nafsu serta tendesi-tendesi tertentu.Oleh sebab itu, mempelajari studi islam menjadi sangat penting agar pemahaman kita terhadap ajaran islam menjadi sangat penting agar pemahaman kita terhadap ajaran islam menjadi parsial, tetapi komprehensif.Pemahaman yang seperti ini sangat di perlakukan bagi munculnya pengamalan ajaran islam yang komprehensif pula. Sehubungan dengan ini, Nurcholis Madjid pun mengatakan bahwa yang amat di perlukan oleh umat islam melalui para sarjananya adalah keberanian untuk menelaah kembali ajaran-ajaran islam yang merupakan hasil interaksi sosial umat islam dalam sejarah(islam historis). 
Selain itu, ada pula istilah sains islam yang menurut Husesen Nasr adalah sains yang dikembangkan oleh kaum muslimin sejak abad islam kedua, yang merupakan prestasi besar dalam peradapan islam. Selama kurang lebih tujuh ratus tahun, sejak abad kedua sebelum masehi, peradaban islam mungkin merupakan peradaban yang paling produktif di bandingkan peradaban mana pun di wilayah sains dan sains islam berada pada garda depan dan berbagai kegiatan, mulai dari bidang kedokteran sampai astronomi.
Dengan demikian, sains islam mencakup berbagai pengetahuan modern seperti kedokteran, astronomi, matematika, fisika,dan berbagai yang di bangun berdasarkan nilai-nilai islami.Sementara studi islam adalah pengetahuan yang di rumuskan dari ajaran islam yang di praktekkan dalam sejarah dan kehidupan manusia, sedangkan pengetahuan agama adalah pengetahuan yang sepenuhnya diambil dari ajaran-ajaran Allah dan rasulnya secara murni tanpa dipengaruhi sejarah, seperti ajaran tentang akidah, ibadah, membaca al-quran dan akhlak.
Dari ketiga kategori ilmu keislaman tersebut, maka muncullah apa yang di kenal dengan madrasah diniyah, yaitu lembaga pendidikan yang secara khusus mengajarkan pengetahuan agama, Madrasah ibtidaiyah, tsanawiyah, aliyah, dan institut agama islam yang di dalamnya di ajarkan studi islam yang meliputi tafsir, hadist, ilmu kalam, filsafat, tasawuf, hukum islam, sejarah dan kebudayaan islam, dan pendidikan islam. Kemudian muncul pula universitas islam yang ada di dalamnya di ajarkan berbagai ilmu pengetahuan modern yang bernuansa islam yang selanjutnya di sebut sains islam.

2.      Pendekatan dalam kajian islam: Normatif atau Historis
(membangun kerangka dasar filsafat ilmu-ilmu keislaman)

A.    Observasi Kritis Terhadap Ilmu-ilmu Keislaman

Menurut pengamatan Fazlur Rahman pada bukunya Islam dan Modernity telah mencoba untuk menggunakan pendekatan yang lebih kritis dalam membahas ilmu-ilmu keislaman.Telah mengidentifikasi dan memberi karakteristik pada ilmu-ilmu keislaman sebagai disiplin ilmu yang bersifat sangat repetitif, selalu mengulang-ulang,sarat dengan literatur yang hanya berupa komentar, penjelasan,terhadap suatu karya dan komentar terhadap komentar tersebut, serta sangat sedikit membuahkan pikiran-pikiran maupun gagasan baru.Pengumpulan intelektual islam, menurut pandangannya selama ini tidak di arahkan untuk pencapaian-pencapaian gagasan yang baru.melainkan hanya di manfaatkan untuk mempertahankan pengetahuan yang telah ada,metode perdebatan lalu di anggap sebagai jalan yang terbaik untuk memenangkan suatu pendapat dan hampir menjadi metode pengganti bagi usaha-uasaha intelektual murni untuk memunculkan dan menangkap isu-isu aktual lainnya.
Piranti analitik dan akademik yang kerap ia gunakan untuk menvalidasi kritik-kritiknya adalah dengan memaparkan perbedaan antara islam yang normatif dan historis. Dengan memilah dua aspek dari agam islam ini, Rahman hendak mempertahankan dengan sekuat tenaganya aspek-aspek normatif agama islam sementara tetap dapat bersikap lebih kritis terhadap hal-hal tertentu yang berkaitan dengan perkembangan kesejahteraanya. Dengan demikian, seluruh kontruksi dan formulasi yang ada ilmu-ilmu keislaman, seperti ilmu kalam, fiqih, falsafah, dan tasawuf selama ini, tidak lain dan tidak bukan adalah merupakan manifestasi produk pemikiran orang-orang muslim dalam evolusi kesejahteraannya yang panjang. Berdasarkan pada kenyataan ini, sarjana, sarjana muslim di manapun dan pada abad kapan pun seharusnya menghindari diri dari menjadi tawanan dari prinsip-prinsip yang di buatnya sendiri. Seluruh bangunan pengetahuan, prinsip-prinsip dan formula-formula yang telah ada tersebut sesungguhnya sangat di batasi oleh waktu dan ruang di mana dan kapan ia di rumuskan.
Observasi kritis terhadap ilmu-ilmu keislaman tersebut diatas dapat di ungkapkan kembali dengan menggunakan bahasa filsafat ilmu kontemporer, seperti yang di tujukan dalam tulisan-tulisan Kart R.Popper, Thomas S.Khun dan imre Lakatos. Dilihat dari sudut pandang filsafat ilmu tradisional, adalah menjadi bahan perdebatan dan barang kali di anggap kontroversional, apakah penggunaan istilah science ini tepat untuk merujuk pada ilmu-ilmu sosial,humaniora dan khusus ilmu keislaman.Rahman tidak memberikan klasifikasi lebih lanjut mengapa ia memilih istilah science untuk memaparkan studi-studi islam dalam bukunya.Dengan mengesampingkan seluruh kontroversi yang ada mengenai hal ini dan menerima dengan tanggung jawab bahwa studi islam dapat dinamakan sengan istilah science,
Rahman harus menghadapi kenyataan yang tidak gampang dalam usahanya untuk menerapkan metode-metode ilmiah pada ilmu-ilmu keislaman. Mula pertama adalah tuntunan untuk melakukan pengujian ulang secara kritis mengenai sikap pandang umat muslim terhadap islam di masa lalu yang selama ini ada.Hal ini di nilai sangat mendesak karena adanya gangguan psikologis yang amat komplek berdasarkan kenyataan bahwa mereka harus berhadapan dengan barat, umat muslim di tuntut untuk dapat mempertahankan diri sehingga seolah masa lampau itu adalh tuhan kita. Untuk itulah dia menyatakan pentingnya di lakukan rekontruksi yang lebih sistematik pada bidang-bidang ilmu keislaman, seperti pada teologi (kalam), hukum dan etika (fiqh), filsafat dan ilmu sosial lainnya.
Problem rasionalitas dan historitas dalam pemikiran islam dan ilmu-ilmu keislaman saat ini sedang mendapat tantangan dan kritik tajam, khususnya dari sarjana-sarjana muslim masa kini. Beberapa diantara para pemikiran itu dapat di sebutkan antara lain Muhamad Abib al jabiri,Nasr Hamid Abu Zayd, Muhamad Shahrur dan Abdullah Ahmad Naim.Meskipun demikian, menurut pengamatan penulis yang masih harus di uji lebih lanjut, belum ada satu pun dari generasi pemikiran-pemikiran islam saat ini yang mencoba menjelaskan relevansi penerapan teori-teori dan metodologi ilmiah,yang merupakan intisarinya filsafat ilmu, pada wacana ilmu-ilmu keislaman dalam rangka mengkritisi seluruh kontruksi ilmu-ilmu keislaman dan pemikiran islam yang begitu luas.Selagi ilmu-ilmu keislaman dan studi keislaman dapat di sebut sebagai science.

B.     Pengumpulan Teori-teori Dalam Wacana Keilmuan:
Sepintas Menengok Problem/Masalah Pertumbuhan Ilmu

Pertumbuhan, perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan, yang sesungguhnya  adalah problem yang akut dalam ilmu-ilmu keislaman yang merupakan tema sentral dalam pembahasan akademik pada domain filsafat ilmu. Tidak mungkin bagi penulis di sini untuk menguraikan secara panjang lebar seluruh perdebatan yang berlagsung selama beberapa dekade terakhir dalam di siplin yang bercorak sangat filosofis. Akan tetapi, penulis akan memfokuskan diri pada pembahasan mengenai sifat dan watak dasar teori-teori ilmiah beserta metodologi-metodologinya dalam hubungannya dengan pertumbuhan dan perkembangan ilmu.disini penulis tidak akan dapat juga menyajikan gambaran situasi perdebatan secara utuh, oleh karena itu akan di sampaikan saja gambaran selintas mengenai perdebatan yang telah terjadi.
Sebelum mendiskusikan subyek yang sangat vital ini, mula pertama penulis akan menyampaikan beberap istilah maupun terminologi analitik yang sering kali di gunakan untuk menjelaskan dua aliran/tradisi besar dalam filsafat ilmu.Yang pertama adalah tradisi yang bersifat naturalistik, sedangkan yang lainnya adalah humanistik. Beberapa konsep kunci yang sering kali mengemukakan dalam tradisi naturalistik adalah mengenai coribility (dapat di koreksi) dan incorrigibility(tidak dapat dikoreksinya)pengetahuan,sistem explanation (penjelasan) dan falsification(penemuan kesalahan), sistem, modal, dan teori, kerangka kerja, pola dan paradigma,theory-laden (padat teori),tradisi investigasi yang berkesinambungan, normal science, (ilmu-ilmu normal) dan revolusionary sciense(ilmu yang bersifat revolusioner).anomali, teori commensurability,puzzlevsolving within normal science (upaya pemecahan persoalan yang pelik dalam wilayah normal science), kontek justifikasi dan konteks penemuan, hard core and protective belt (inti ilmu yang solid dan ilmu-ilmu yang melingkari sebagai sabuk pengaman),the heuristic principle (prinsip memberikan dorongan untuk melakukan penelitian terus menerus untuk menemukan pemikiran baru) dan lain sebagainya. Sementara itu aliran humanistik sangat menaruh perhatian pada konsep-konsep kunci seperti meaning,ilmu sosial yang interpretatif dan eksplanatif,hermeneutics, insider and outsider understanding,pendekatan-pendekatan yang bersifat idealis dan reduksionis,vertehen vs. Erklaren;obyektifitas dan subyektivitas,obyektivitas dan keterlibatan diri, nilai dan fakta, teks dan konteks, makna dan ekspresi, sosiologi ilmu pengetahuan, pengetahuan sebagai sebuah organisme, masyarakat sebagai sebuah sistem fungsional struktural, agama sebagai sebuah proyeksi sosial dan psikologis dan lain sebagainya.
Berikutnya penulis akan membatasi diri untuk menyeleksi dan menguraikan ide-ide Thomas S. Khun,Karl R,popper dan Imre Lakatos, khususnya yang berkaitan dengan gagasan yang mereka yang mengemukakan dalam diskusi tentang percaturan teori-teori ilmu, tumbuhnya teori baru yang menantang teori-teori yang terdahulu dalam wacana ilmu pengetahuan.Hanya sebagian dari konsep-konsep kunci yang telah di sebutkan di atas.
Mempertahankan, menjaga, mengkritisi, menguji ulang, mencermati, memperbaiki dan mengolah kembali teori-teori ilmiah adalah tugas utama seorang yang bergerak di bidang riset dan pengembangan di lapangan ilmu pengetahuan apapun. Ini berarti aktivitas keilmuan seharusnya dapat menghasilkan, menerapkan,sekaligus mengkritisi teori-teori terdahulu, tidak hanya sekedar mengulang kembali teori tersebut.Ketika di tanyakan apakah yang mereka maksudkan dengan teori, beberapa ilmuan mengatakan bahwa sebuah teori dari sebuah hipotesa yang sudah mapan, atau aturan umum tentang alam, atau juga dapat berupa sekumpulan ide-ide, hukum yang di susun secara sistematis.Ilmuan yang lain mugkin lebih senang menyatakan bahwa teori adalah sebuah sistem pengungkapan dimana hubungan-hubungan internal telah di buat menjadi eksplisit secara nyata.Kedua macam terminologi tersebut mengakui adanya kemungkinan bahwa sistematisasi sebuah teori dapat di kembangkan dalam berbagai cabang ilmu dan melalui berbagai macam cara, baik itu dalam ilmu alam,humaniora, ilmu sosial atau ilmu apa saja.

C.     Reserch program dalam terminologi lakatos: mempertegas Wilayah historitas ilmu-ilmu keislaman

          Satu implikasi dan konsekuensi logis dari hasil temuan Rahman dapat di ekspresikaN lewat sebuah pertanyaan “apakah ilmu-ilmu keislaman membentuk sebuah reserch program yang melibatkan teori-teori yang satu sama lain saling kompetisi, sebagai mana umumnya terjadi pada cabang-cabang ilmu yang lain? Rahman sendiri tidak memberikan jawaban untuk pertanyaan di atas.Namun demikian, nampak jelas rahman memberikan sinyal ke arah mana hendaknya research program ilmu-ilmu keislaman di bawa, di bangun kembali dan di formulasikan ulang.
          Menurut hemat penulis, dengan menggunakan bahasa Lakatos, apa yang di sebut Rahman sebagai islam normatif adalah sama atau paralel dengan yang di namakan hard core dari sebuah cabang ilmu, sementara yang islam historis merupakan domain utama dari apa yang di sebut dengan protective belt, yakni domain utama dari apa yang di sebut sebuah ilmu, sistem pengetahuan yang secara langsung dapat dinilai, di uji ulang, di teliti, di pertanyakan, di formulasi ulang dan di bangun kembali.
          Kawasan yang memungkinkan untuk di lakukan rekontruksi adalah pada domain ‘islam historis’, bukan pada islam normatif.Seluruh komponen ilmu-ilmu keislaman, khususnya kalam, tafsir, hadith, fikih, filsafat, tasawuf dan akhlak adalah masuk dalam kawasan islam historis.Bangunan pengetahuan tersebut semula di rintis dan di formulasikan oleh manusia-manusia yang hidup pada masa tertentu dan di pengaruhi oleh masalah-masalah dan tantangan yang sangat riel dan valid bagi konteks waktunya saat ini.Berdasarkan kenyataan bahwa problem dan tantangan itu berada dari masa ke masa, satu abad dengan abad yang lain, maka secara natural konstruksi pengetahuan menjadi selalu terbuka untuk di uji ulang di teliti, di reformulasi dan direkonstruksi oleh para ilmuan dan peneliti pada setiap kurun waktu.
          Dengan merangkum pernyataan rahman, Arkoun dan Richard C.Martin dan dalam beberapa hal juga Charles J Adam, nampak di sana ada sebuah kerinduan yang mendalam dan kebutuhan yang sangat mendesak bagi para sarjana muslimmasa kini untuk merekontruksi ilmu-ilmu keislaman dengan cara mencangkok (menstransplantasi) dan menggunakan teori serta metodologi yang berasal dari bidang ilmu di luar kalangannya sendiri.Pada saat menyampaikan masalah yang sangat krusial ini Arkountermasuk salah satu yang paling vokal,kalau tidak radikal di banding koleganya yang lain.Dia dengan sungguh-sungguh menyerukan di gunakannya metodologi dan teori yang di bangun dalam tradisi ilmu-ilmu sosial sebagai alat analisis ataupun model untuk program riset pada studi islam yang baru.Arkoun tidak segan-segan menerapkan metodologi baru ini ke dalam ilmu-ilmu keislaman, karena ia berkeyakinan bahwa pendekatan-pendekatan baru dalam studi ilmu-ilmu sosial ini hanyalah sebuah kelanjutan, pengembangan, dan perbaikan dan metodologi dan teori yang sebelumnya telah di rintis dan di formulasikan oleh para ilmuan abad pertengahan.
          Kemungkinan melakukan perluasan dan pemekaran wilayah research program dalam rangka untuk mendorong kemajuan dan pertumbuhan ilmu-ilmu keislaman paling tidak pada kawasan islam historis sangat terbuka. Islam historis yang berada dalam domain protective belt menurut istilah lakatos, merupakan fokus yang nyata dan wilayah konkret untuk program rekrontruksi dan reformulasi ilmu-ilmu keislaman pada era modern ini.Dan hal itu akan berhasil bila dilakukan transplantasi metodologi,teori dan tradisi riset yang telah dengan sangat teliti di bangun oleh para lmuan yang bergerak di bidang humaniora,sosial dan studi agama.
          Untuk lebih jelasnya, sebagai contoh pembanding penulis akan mengangkat contoh diskusi mutakhir di kalangan teolog kristiani tentang bagaimana mereka memanfaatkan diskusi-diskusi yang sangat kaya dalam bidang epistimologi dan filsafat ilmu yang telah di kembangkan dalam tahun-tahun belakangan ini.Perkembangan pengetahuan yang sangat signifikan pada saat ini adalah perubahan dari foundationalism ke holism.Dalam filsafat ilmu pernyataan yang bersifat foundamentional semula berasal dari deskripsi data-data yang bersifat empiris.
          Beberapa teolog kristiani memberikan sebuah analisis yang menarik mengenai bagaimana 5foundamentalionalism telah menimbulkan dampak pada wacana teologi medern,secara khusus melihat bagaimana kitab suci telah di paksa untuk berperan memberikan fondasi,sebuah fungsi yang memungkinkan saja tidak tepat.Sebagai dampak dari foundationalism, tiba-tiba sejarah teologi modern mengubah fokusnya denan melihat jawaban-jawaban terhadap tiga macam pertanyaan.Pertama,proposal yang telah di buat mengenai fondasi ilmu/ pengetahuan agama? Ketiga dalam situasi kegagalan untuk menemukan fondasi yang memadai, siasat tau gerakan-gerakan apa saja yang telah di lakukan untuk menyingkirkan seluruh persoalan yang terkait?
          Mencermati sejarah teologi dalam pengertian yang sedemikian, Nancey Murphy menemukan bahwa para teolog kristiani modern secara umum dapat di kelompokkan menjadi tiga kubu: mereka yang fondasinya biblikal, mereka yang fondasinya eksperimental dan mereka yang mengklaim bahwa teologi sama sekali bukan ilmu pengetahuan.Bagi pendukung kubu biblikal, pertanyaan yang selalu di ajukan adalah bagaimana anada tahu bahwa yang menurut anda itu wahyu adalah memang benar-benar wahyu? Para apologis sejak dari locke sampai dengan kaum fundamentalis amerika telah mengembalikan jawaban untuk pertanyaan tersebut keepada mukjizat dan ramalan-ramalan yang menjadi nayata (fulfilled propheciec).Karl barth dengan sederhana mengatakan: jangan bertanya hal itu.
          Tetapi di sini bukan tempatnya untuk mendiskusikan isu tersebut secara panjang lebar.Yang ingin di tekankan adalah kebutuhan dan perlunya segera ada interaksi dan interkomunikasi dengan teori-teori dan  metodologi yang telah di gunakan pada disiplin ilmu yang lain yang berada di luar lingkaran btasnya sendiri. Dengan mencangkokkan teori-tersebut, memungkinkan terjadinya perluasan horison dan wawasan keilmuan seseorang .Ketika interaksi dan interkomunikasi antar berbagai di siplin ilmu ini berlangsung, akan ada perubahan  besar pada cara kita mempertanyakan problem-problem akademik. Sudah sangat jelas ba hwa situasi yang baru memerlukan sebuah filsafat yang baru pula, dan lebih dari pada itu, sebuah terminologi dan bahasa yang baru.Penulis berpendapat, hal ini yang ingin di tekankan oleh rahman pada saat ia membandingkan ilmu-ilmu keislaman dengan kerangka kerja ilmiah dan filosofis yang komprehensif yang di bangun oleh Aristotle ataupun ilmuan besar abad modern ini.
          Sekarang gambaran atau image yang seperti apakah yang di proyeksikan oleh ilmu-ilmu keislaman yang tidak lagi bersifat dogmatik,repetitif dan skolastik? Bagian terakhir dari tulisan ini akan mendiskusikan apa yang mungkin dapat menggambarkan image tersebut.

D.    Keterkaitan Normativitas dan Historisitas dalam Studi Keislaman: Lingkaran Hermenetik antara Bahasa,Pemikiran dan Kesejarahan dalam ilmu-ilmu keislaman

          Dari perspektif filsafat ilmu, setiap ilmu, baik itu ilmu alam,humaniora, sosial agama atau ilmu-ilmu keislaman, harus diformulasikan dan di bangun di atas teori-teori yang berdasarkan pada kerangka metodologi yang jelas.Dalam pengertian ini, teori-teori sebagai wujud ekspresi intelektual yang seharusnya tidak boleh di sakralkan dan dokmatif.dengan demikian kita hanya akan berhubungan dengan teori-teori, ide-ide, kerangka kerja, formula-formula, prinsip-prinsip, kepercayaan-kepercayaan atau asumsi-asumsi, dasar, paradigma dan apapun namanya, yang dapat di uji, di evaluasi, di kritisi dan didiskusikan secara akademik.Berdasarkan teori-teori yang telah ada lebih dahulu, riset keilmuan dapat tumbuh mencapai perkembangan dan kemajuan.
          Lebih jauh lagi teori-teori yang sudah ada terlebih dahulu tidak dapat di jadikan garansi kebenaran.Anomali-anomali dan pemikiran-pemikiran yang tidak tepat mungkin akan selalu dapat di temukan melekat dalam teori-teori dan ide tersebut.Disamping kenyataan bahwa ilmu pengetahuan tidak tumbuh dalam kevakuman.Dia akan selalu di pengaruhi dan tidak dapat lepas sama sekali dari pengaruh cita rasa sejarah, sosial dan politik.Pemikiran seperti ini muncul dari adanya kesadaran bahwa teori-teori ilmu pengetahuan hanyalah merupakan produk, hasil karya manusia, oleh karena itu terbatas dan terkondisikan oleh peristiwa kesejarahan yang melingkupinya.Teori-teori, paradigma, ekspresi intelektual dan refleksi filosofis pada umumnya, tanpa pengecualian berada dalam batas-batas kesejarahan tersebut.Secara konsisten semua itu berkaitan dengan kepentingan, asumsi dan konteks.
          Dalam pengertian yang demikian, penerapan filsafat ilmu pada diskusi akademik ilmu-ilmu keislaman saat ini harus dilakukan, khususnya karena pertimbangan bahwa filsafat ilmu saling berkaitan dengan sosiologi ilmu pengetahuan ini jarang didiskusikan dan tidak pernah di masukkan dalam tradisi ilmu-ilmu keislaman yang telah ada. Padahal keduanya merupakan prasyarat dan wacana awal yang harus di mengerti bagi para ilmuan muslim yang ingin menghindarkan diri dari uduhan pembela tipe studi islam yang hanya bersifat pengulang-ulangan, statis, disakralkan dan dogmatik.
          Dalam kehidupan akademik kontemporer, di siplin-disiplin ilmu di luar ilmu-ilmu sosial, mulai dari studi literatur dan biologi, sampai dengan pada studi fisika, agama dan etika, semuanya dapat menerima premis-premis yang telah di perjuangkan oleh Karl Mannheim dan Max Scheler.Seluruh aspek dari keberadaan/ being dan pengetahuan/ seluruh aspek dari keberadaan/ being dan pengetahuan/ knowning seseorang adalah di tentukan oleh situasinya (situated), pemikiran dan aksi membentuk satu kesatuan dan perkembangan intelektual suatu masyarakat tidak dapat di pisahkan oleh konteks sosial dan historis yang konkret.
          Dengan mempertimbangkan formula tersebut di atas, seseorang harus menyadari bahwa seluruh teori, formula, prinsip, hukum, kerangka kerja dalam ilmu-ilmu keislaman adalah sebenarnya merupakan produk determinasi kemanusiaan, kemasyarakatan dan kultur. Ketika mengatakan hal ini, penulis tidak berfikir bahwa penulis telah jatuh pada perangkap relativitesme.yang ingin penulis tekankan pada konteks ini adalah bahwa ilmu apapun, termasuk ilmu-ilmu keislaman adalah bersifat dapat dikoreksi (corrigible) dan dapat salah (falsifiable).Hanya dengan menyadari faktor-faktor penting itulah, maka kemungkinan melakukan pengujian, mempertanyakan, adu argumentasi, mendebat konsep-konsep yang telah lebih dahulu ada dan teori-teori yang di bangun oleh para intelektual muslim masa lalu dalam semua cabang ilmu, secara akademik dapat di benarkan.
          Ketika pada akhirnya kita menghadapi masalah-masalah historisitas pengetahuan, patut di sayangkan bila sarjana-sarjana muslim dan non-muslim yang hendak mengembangkan wacana mereka dalam ilmu-ilmu keislaman secara psikologis merasa terhalang, bahkan terintimidasi dengan problem reduksionisme, sebuah persoalan yang sesungguhnya berasal dari wacana studi agama. Dalam hal-hal tertentu, ada beban psikologis dan institusional yang terlibat dalam memperbesar dan memperluas domain, scope dan metodologi ilmu-ilmu keislaman karena persoaln itu.Sarjana-sarjana Muslim yang tergabung dalam kubu aktivis khususnya dan para ahli keislaman dengan paradigma yang lama akan merasa gelisah, apakah mereka itu benar-benar sedang melakukan studi islam ataukah yang lain.Berdasarkan pada argumen tersebut, para ahli keislaman klasik akan lebih senang memilih untuk mempergunakan pendekatan filologi yang wataknya lebih berorientasi tekstual dari pada konstektual.
          Dari sudut pandang penulis, disini bukan tempat yang tepat untuk mengajukan isu reduksionalisme dan non-reduksionisme, karena sejak awal mula Fazlur Rahman sendiri telah menempatkan islam normatif dalam kerangka kerjanya atau sebagai hard core dalam kerangka kerja lakatos, yang harus di lindungi dengan sifet-sifatnya yang mendorong pada penemuan-penemuan dan penyelidikan baru (positive heuristic). Hard core atau islam normatif ini sama dengan apa yang telah di tetapkan sebagai objek studi agama yang tepat dengan menggunakan pendekatan fenomenologis.
          Bangunan ilmu-ilmu keislaman, setelah di perkenalkan dan di hubungkan dengan wacana filsafat ilmu dan sosologi ilmu pengetahuan, lebih lanjut harus mempertimbangkan penggunaan sebuah pendekatan dengan tiga di mensi untuk melihat fenomena agama islam, yakni pendekatan yang berunsur linguistik-antropologis pada saat yang sama.Tentang apa dan bagaimana pendekatan tersebut sudah banyak di tulis oleh para ahlinya.Menjelaskan kembali disini hanyalah merupakan pengulangan saja. Yang ingin penulis diskusikan di sini adalah masalah sifat dan bentuk hubungannya atau saling keterhubungan, antara ilmu-ilmu keislaman yang berdasarkan teks dengan menggunakan pendekatan linguistik dan filologis dan studi keislaman yang berasal dari hasil pemikiran, ide- ide, norma-norma, konsep-konsep dan doktrin-doktrin dengan menggunakan pendekatan teologis dan filosofis serta studi keislaman yang menekankan pada masalh yang berkaitan dengan interaksi sosial dalam konteks budaya dan kesejarahan dengan menggunakan sebuah pendekatan sosiologis, antropologis dan psikologis.
          Apakah kerangka hubungan antara ketiga macam pendekatan akademik tersebut harus linier, paralel atau kah sirkuler? Berdasarkan pengamatan penulis dalam uraian terdahulu, penulis berkeyakinan bahwa menentukan bentuk hubungan antara ketiga tradisi keilmuan tersebut adalah jauh lebih penting dari pada hanya membiarkan diri kita menerima begitu saja kebenaran dari setiap tradisi akademik dalam domainnya masing-masing secara sendiri-sendiri.
          Para pendukung model linear akan lebih senang menyatakan keunggulan, kalau tidak eksklusivitas, tradisi keilmuannya sendiri.Apabila ia berasal dari tradisi sosial antropologis, adalah lebih baik dan lebih dan lebih penting di banding dengan tradisi pendekatan keilmuan keilmuan lainnya demikian juga masing-masing sarjana  yang menggunakan pendekatan filosofis, historis, dan teologis akan mengatakan hal yang sama.Dia menjadi kurang peka dan kurang memperhatikan hasil karya maupun riset yang telah di hasilkan dengan menggunakan perspektif yang berbeda dengan tradisi sendiri.
          Ilmuan yang mengadopsi model hubungan yang paralel di wakili oleh sarjana-sarjana muslim yang mendapatkan latihan akademik dalam tradisi filsafat filologi dan sosial antropologi. Namun dia tidak memiliki pandangan akademik yang memadai untuk menggabungkan masing-masing wacana keilmuan tersebut ke dalam sebuah analisis yang terpadu.Perbedaan antara pendukung yang linier dengan paralel adalah yang pertama hanya menguasai satu tradisi pembelajaran akademik, sedangkan yang kedua menguasai tradisi, tetapi tidak mampu untuk meramu berbagai tradisi itu menjadi satu unit analisis terpadu.
          Dengan mengambil model hubungan yang sirkuler di sisi lain,sarjana muslim yang mengikuti model ini akan menyadari sepenuhnya, dan akan mempertimbangkan keseluruhan dari ketiga pendekatan multi dimensi dalam mempelajari ilmu-imu keislaman sebagai satu entitas yang utuh, sekaligus dengan implikasi dan konsekuensi-konsekuensinya. Memadukan ketiga pendekatan ini ke dalam satu pandangan akademik yang terintegrasi dan jitu, akan membuat seseorang menjadi lebih tanggap terhadap dimensi sosial-antropologis dalam keagamaan islam. Sementara dalam waktu yang sama ia akan tetap mempertahankan aspek-aspek filosofis dan fenomenologinya. Terakhir, dia akan mempertimbangkan juga problem-problem linguistik dan filosofis dalam tradisi islam.
          Dengan demikian, ilmu-ilmu keislaman yang kritis sebagaimana pernyataan Fazlur dan Mohammed Arkoun beserta kolega-kolega mereka yang memiliki keprihatinan yang sama, hanya akan dapat di bangun secara sistematik dengan menggunakan model gerakan tiga pendekatan secara sirkuler, dimana masing-masing dimensi dapat berinteraksi, berinterkomunikasi satu dengan lainnya.Masing-masing pendekatan berinteraksi dan di hubungkan dengan yang lainnya.Tidak ada satu pendekatan maupun disiplin yang dapat berdiri sendiri.Gerakan dinamis ini pada esensinya adalah hermeneutik.
          Hanya dengan kerangka kerja yang demikianlah, makna corrigibility (dapat di koreksi) dan falsibility (dapat salah) dari ilmu-ilmu keislaman dapat di pahami dengan baik, sehingga adanya paradigma dan teori-teori yang kompetetif menjadi dimungkinkan.Lebih jauh lagi, konteks penemuan-penemuan baru (context of discovery) dalam ilmu-ilmu keislaman dan riset dapat berkembang dan mendapat prioritas, sementara konteks justifikasi (context of justification) dapat di tekan menjadi sekecil mungkin. Dalam jaringan kerja akademik semacam ini ilmu-ilmu keislaman dalam tradisi umat muslim tidak hanya akan memproduksi paradigma-paradigma yang lama yang secara umum telah di terima, akan tetapi juga mengkritisinya dan bahkan mungkin menggantinya dengan yang baru. Reformasi dan rekontruksi yang sedemikian memang seringkali kurang berfungsi dalam rentang waktu jangka pendek, sering menimbulkan revolusi dan keresahan sosial, namun dalam jangka panjang akan berfungsi dengan baik.Aomali-anomali dan inkonsistensi-inkonsistensi yang terkandung dalam setiap teori dan metodologi dalam ilmu-ilmu keislaman dengan begitu akan mudah dapat di dteksi, sehingga tradisi investigasi yang terus menerus dan tradisi riset yang berkelanjutan dengan menggunakan pendekatan interdisiliner dapat terpelihara dengan baik.


3. Filsafat Ilmu-ilmu Keislamam:
A.    Tiga Lapis Peringkat Ilmu-ilmu Keislaman
          Sumber kelemahan pengembangan islamic studies terletak pada aspek filsafat keilmuannya. Selama ini praktek pendidikan dan pengajaran agama islam terlalu menekankan pada sumber dan kebenaran tekstual. Para pendukung ilmu ini melupakan kenyataan bahwa ketika gagasan pemikiran, ide yang menjelma menjadi keyakinan dan keimanan yang berlandaskan teks itu di praktekkan dan dioperasionalisasikan di lapangan, maka secara otomatis muncul berbagai pemahaman dan interpretasi. Ibn Rusyd pernah mendokumentasikan berbagai model pemahaman dan interpretasi yang terkait dengan persoalan ibadah pemikiran keislaman dalam bukunya Bidayah al Mjtahid.Ketika pemahaman keagamaan yang semula bersifat individual itu mengelompok, terorganisir dalam sebuah perkumpulan (organisasi), maka secara sosiologis terjadilah proses sosialisasi, saling pengaruh mempengaruhi, upaya memperbanyak anggota tanggapan, respon, penilaian dan kelompok lain dan begitu seterusnya. Tidak tertutup kemungkinan terjadi pertentangan, ketegangan dan konflik jika ide-ide yang di sebarluaskan itu menyentuh kepentingan sosial, ekonomi, budaya dan agama.Pada giliannya muncullah kelompok yang di sebut maistream yang dominan dan kelompok pinggiran yang marginal.
          Pertemuan, pertentangan, kritik, perpaduan, penyempurnaan konsep, kompromi dan dialog antar berbagai kelompok pemahaman dan interpretasi keagamaan islam itulah yang sebenarnya merupakan lahan subur bagi penyusunan sistematika keilmuan yang dimiliki oleh berbagai kelompok penafsiran dan pemahaman tersebut.Menyatunya berbagai komponen keilmuan, seperti objek kajian, metodologi yang di gunakan, pendekatan yang di pilih, serta sistematika yang di susun, pada gilirannya, akan terabstraksikan dalam teori yang mendasari model berfikir keagaan islam.
          Debat dan pergumulan filosofis akademik antar berbagai teori yang di kedepankan oleh para pencetus dan penentangnya, menurut hemat penulis, bukan lagi agama sebagai agama itu sendiri. Campur tangan logika atau akal pikiran yang di sumbangkan oleh para ilmuan, ulama dan cerdik cendekiawan tidak lain dan tidak bukan adalah hasil konstruksi manusia biasa. Belum lagi pengembangan teori tersebut melalui pencangkokan dan pengayaanya dengan berbagai disiplin ilmu-ilmu yang muncul se-zaman atau muncul belakangan (linguistik, semiotik, hermeneutik, cultural studies dan lain-lain. Pertemuan berbagai teori ini membuka peluang bagi jatuh bangunya sebuah teori keilmuan serta di mungkinkannya pengembangannya lebih lanjut.Analisis yang endalam tentang jatuh bangunya sebuah teori keberagamaan islam dalam berbagai tinjauanya, kekuatan dan kelemahan yang melekat pada teori-teori tertentu, implikasi dan konsekuensi penggunaan teori tersebut dan sebagainya adalah wilayah filsafat ilmu-ilmu keislaman.
          Dari uraian singkat tersebut sesungguhnya terdapat tiga wilayah keilmuan agama islam. Pertama, wilayah praktek keyakinan dan pemahaman terhadap wahyu yang telah diinterpretasikan sedemikian rupa oleh para ulama, tokoh panutan masyarakat dan para ahli pada bidangnya dan oleh anggota masyarakat pada umumnya. Wilayah praktik ini umumnya tanpa melalui klarifikasi dan penjernihan teoritik keilmuan. Yang  terpenting di sini adalah pengamalan. Pada level ini perbedaan antar agama dan tradisi, agama dan budaya, antara belief dan habits of mind sulit di pisahkan.
          Kedua, wilayah teori-teori keilmuan yang di rancang dan disusun sistematika dan metodologinya oleh para keilmuan, para ahli dan para ulama sesuai bidang kajiannya masing-masing. Apa yang di sebut-sebut ulum al-tafsir, ulum al-hadis, islamic thought (kalam, falsafah, dan tasawuf), hukum dan pranata sosial (fikih), sejarah dan peradaban islam, pemikiran islam dan dakwah islam ada pada wilayah ini. Apa yang ada pada wilayah sebenarnya tidak lain dan tidak bukan adalah teori-teori keilmuan agama islam yang di abstrakkan baik secara deduktif dari nash-nash atau teks-teks wahyu maupun secara induktif dari praktik-praktik keagamaan yang hidup dalam masyarakat muslim era kenabian, sahabat, tabi’in maupun sepanjang sejarah perkembangan masyarakat muslim dimanapun mereka berada.
          Ketiga, adalah telaah kritis yang lebih populer di sebut meta discourse, terhadap sejarah perkembangan jatuh bangunnya teori-teori yang di susun oleh kalangan ilmuan dan ulama pada lapis kedua. Lebih-lebih jika teori pada disiplin tertentu, ulumul quran umpamanya, didialogkan dengan teori-teori yang biasa berlaku pada wilayah lain, ulumul hadis, sejarah peradaban islam dan seterusnya. Teori yang berlaku pada wilayah kalam didialogkan dengan teori yang berlaku pada wilayah tasawuf, dan begitu selanjutnya. Belum lagi jika teori-teori yang berlaku dalam wilayah islamic studies pada lapis kedua di hadapkan dan didialogkan dengan teori-teori di luar disiplin keilmuan agama islam seperti disiplin ilmu kealaman, ilmu budaya, ilmu sosial dan religius studies. Wilayah pada lapis ketiga yang komplek dan sophisticated inilah yang sesungguhnya dibidangi oleh filsafat ilmu-ilmu keislaman.

B.    Membangun Konstruksi Dasar Filsafat Ilmu-ilmu Keislaman
       Lapis ketiga studi keislaman pada level filsafat keilmuan ini semakin di rasakan perlunya untuk di kembangkan karena beberapa faktor:
1. Islamic studies bukanlah sebuah disiplin ilmu yang tertutup. Ia merupakan disiplin ilmu yang terbuka islamic studies atau dirasat islamiyyah adalah bangunan keilmuan biasa yang harus di uji ulang validitasnya lewat perangkat konsistensi, koherensi dan korespondensi oleh kelompok keilmuan sejenis.
2. Agama islam bukan satu-satunya agama yang hidup (living religion) pada saat sekarang ini. Dalam dunia sekarang ini terdapat banyak living religion yang mempunyai sistem tata pikir dan seperangkat nilai dan keyakinan sama persis seperti yang di praktikkan oleh umat islam, hanya saja kitab suci, bahasa yang di gunakan, nabi atau rasul yang di jadikan tokoh charismatic dan panutannya, tata cara ritual peribadatannya serta letak geografis para pemeluknya berbeda.
3. Semakin dekatnya hubungan dan kontak individu maupun sosial antara berbagai etnik, ras, suku dan agama sebagai akibat dari teknologi, transportasi, komunikasi, dan informasi yang canggih sehingga memperpendek jarak dan tapal batas ruang dan waktu yang biasa di pikirkan dan di imaginasikan oleh umat beragama pada abad-abad sebelumnya. Setiap saat, lewat media elektronik dan media cetak, apa yang terjadi pada belahan dunia lain menembus, menerobos, dan mempengaruhi tatacara berfikir umat beragama dan membangkitkan emosi mereka di manapun mereka berada.
       Dengan demikian kualitas keimanan dan keyakinan yang selama ini di pegang teguh oleh kelompok lapis pertama dan di topang serta di bekali argumen dan dalilnya oleh seperangkat teori yang di sajikan oleh lapis kedua perlu di jernihkan kembali dan di klarifikasikan ulang oleh kelompok lapis ketiga. Apa yang di sebut sebagai ilmu pengetahuan termasuk di dalamnya ilmu-ilmu keagamaan islam khususnya perlu menyadari adanya tiga peringkat keilmuan tersebut. Jika tidak, maka akan terjadi ketertumpangtindihan antara yang satu dan lainnya dan pada gilirannya akan memunculkan anomali-anomali dan bahkan ketimpangan-ketimpangan dalam kehidupan beragama.

C.     Budaya Berfikir Baru Yang Ingin Dikembangkan
       Dengan bekal kemampuan membedakan tiga lapis ilmu-ilmu keislaman, ternyata lapis ketiga yang paling jarang di sentuh oleh metodologi pendidikan agama islam dan dakwah islam sebagai ujung tombak terdepan dalam berhubungan dengan komunitas intern umat islam pada umumnya. Mentalitas dan cara berfikir yang jernih, logis, wajar, objektif, apa adanya, sekaligus kritis biasanya lebih mendahulukan nilai-nilai fundamental (fundamental value) dalam kehidupan dan bukannya sekedar identitas lahiriyah keberagamaan. Filsafat ilmu-ilmu keislaman, dapat di jadikan media olah pikir untuk membentuk sikap kritis terhadap realitas kehidupan beragama yang nyata memang tidak seideal, sebagus, seindah seperti yang di cantumkan dan di rumuskan dalam formulasi normativitas doktrin dan dogma-dogma keagamaan. Disamping itu, filsafat ilmu-ilmu eislaman juga dapat membantu menari fundamental value yang berada di balik formulasi rumusan doktrin yang formal dan kering.
       Dalam era pluralitas internal umat islam dan pluralitas eksternal antar umat beragama filsafat ilmu-ilmu keislaman di perlukan untuk mengantisipasi dan mengurangi fanatisme kelompok. Pertentangan-pertentangan kepentingan ekonomi, politik, dan sosial semakin hari semakin tajam tidak terbendung dan mudah memunculkan fanatisme kelompok sempit yang dengan mudah akan mengarah pada kehancuran total secara bersama-sama.
       Ada tiga pola pikir keagamaan islam yang perlu di cermati bersama, didialogkan dan di kembangkan lebih lanjut di kemudian hari, sebagai akibat langsung di perkenalkannya fisafat ilmu-ilmu keislaman dalam khasanah intelektual muslim eravmilinium baru:
1.      Pola pemikiran keagamaan islam yang bersifat absolutely absolute
       Pola pemikiran keislaman model ini selalu memandang bahwa ajaran agama seluruhnya adalah bersifat taugify. Unsur wahyu lebih di kedepankan dari pada akal. Bahkan hal-hal yang curigai sebagai produk akal cepat-cepat di sebut sebagai bid’ah. Dan wa kullu bid’ atin zalalah, wa kullu zalatin fi al-nar ( seluruh barang baru, yang di masukkan dalam agama adalah bid’ah ( mengada-ada). Dan setiap perbuatan yang bersifat mengada-ada dalam bergama adalah menyesatkan. Sedang hal-hal yang menyesatkan selalu akan membawa ke neraka. Dengan demikian unsur ta’abbudy lebih di garisbawahi dari pada unsur ta’aqquly.begitu juga yang biasa di sebut-sebut sebagai qat’iyyat( certainly;kepastian) lebih di utamakan dari pada zanniyat.
       Pola keimanan dan pola pemikiran keagamaan ingin penulis sebut sebagai bersifat absolutely absolute. Pola pikir islam model ini sangat rigid, kaku dan tidak mengenal kompromi. Para pemangku model pemikiran ini selalu mengambil jarak sejauh mungkin dari campur tangan dan intervensi orag lain apalagi penganut agama lain. Hampir-hampir semboyan yang di gunakan adalah right or wrong is my country. Mereka melupakan dimensi kesejarahan, tarikhiyyat atau historitas pemikiran keagamaan. Pendukung pola pemikiran ini mudah terjebak pada proses tagdis al-afkar al-diniyyah(pensakralan pemikiran keagamaan). Fanatism selalu muncul dari logika berfikir keagamaan model ini. Al-uqul al mutanafisah (pola pikir cenderung menyerang pola pikir dan keimanan yang di milki orang lain) sangat kental dimiliki oleh kelompok ini. Sulit diajak tukar pikiran secara ernih dengan kesediaan untuk melakukan proses take and give.
       Ketika perilaku agamawan tidak boleh dikritik dan diteilti oeh para pengamat sosial keagamaan dengan menggunakan pendekatan sosial maupun budaya, maka mereka sesungguhnya lagi menyelamatkan dan memisahkan doktrin agama dari pada pelakunya. Mereka menolak sama sekali bahwa perilaku agama adalah juga perilaku sosial dan perilaku budaya biasa, hanya saja perilaku ini di inspirasikan oleh teks-teks kitab suci dan naskah-naskah keagamaan yang terderivikasi dari nash-nash kitab suci baik langsung maupun tidak.
       Para penganut pola pikir keagamaan yang bercorak absolutely absolute ini teguh dalam bersikap, tidak luwes dalam berkomunikasi dan bergaul dengan sesamanya. Pemahaman teks-teks wahyu secara harfiyyah menjadi stumbling block untuk melakukan kajian sosial dan budaya lebih lanjut terhadap perilaku keagamaan. Pola pikir dan perilaku keagamaan model ini mungkin bagus dan terpuji untuk wilayah keagamaan yang bersifat heterogen . kesulitan dan benturan-benturan sering dihadapi oleh penggemar pola pikir ini.

2.      Pola pemikiran keagamaan yang bersifat absoluetely relative
       Para tokoh agama yang mempunyai latar belakang ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu budaya mempunyai sedikit kecenderungan untuk berpendapat bahwa perilaku agama adalah identik dengan perilaku sosial dan budaya biasa. Sulit di bedakan antara agama dan tradisi. Tradisi adalah agama dan agama adalah tradisi. Dengan demikian apa yang disebut dengan kebenaran dan lebih-lebih kebenaran agama adalah tidak ada. Tidak dikenal dimensi rohaniah –esoterik dari agama-agama. Yang hanyalah dimensi-dimensi lahiriyah eksoterik dari pada pemeluk agama-agama.
       Pandangan ilmuan sosial era positivistik mewakili cara pandang terhadap realitas kehidupan beragama. Tidak perlu memeluk agama secara serius, karena agama hanyalah fenomena sosial biasa, bahkan sebagai sumber dan akar konflik sosial keagamaan dan kesukuan. Pola pikir ini muncul sebagai antitesis dari corak pemikiran keagamaan dan pemikiran islam yang pertama. Jika pola pemikiran yang pertama sangat rigid, kaku maka yang kedua adalah sangat longgar, bahkan cenderung sekuler. Dalam istilah sosiologi agama, corak pemikiran keagamaan yang kedua ini lebih bersifat reduksionistik, sedang yang pertama adalah idealistik. Para protagonis pola pemikiran ini tidak dapat menikmati rasa hangatnya manusia beragama. Masyarakat di barat disinyalir sudah tidak punya rasa agama  seperti yang dipahami oleh pola pemahaman pertama. Namun kesan seperti bisa saja tidak tepat. Kekeliruan dan ketidaktepatan pemahaman tentang entitas agama seperti yang digambarkan oleh corak pemikiran keagamaan yang di pelopori oleh para ilmuan sosial era positivistik ini telah banyak dikritik dan diluruskan oleh para ilmuan studi agama-agama.
       Tata nilai (value) dan religiositas di anggap sebagai fenomena sosial biasa, dan bukannya sebagai hal yang bersifat fundomental dalam kehidupan manusia. Inner life dan spiritualitas dianggap tidak lagi bermakna, karena pandangan mereka terhadap hakekat manusia hanyalah sebagai kumpulan daging yang bergerak tak ubahnya seperti hewan. Manusia adalah makhluk yang bergerak tak ubahnya seperti hewan. Manusia adalah makhluk yang berkelompok, tetapi kehidupan berkelompok tersebut tidak jauh berbeda dari kelompok hewan. Ketika muncul kekerasan antar umat beragama, hal demikian dianggap biasa saja karena menurut analisis ilmu-ilmu sosial hal demikian wajar lantaran pertentangan dan kekerasan tersebut semata-mata karena perebutan sumber-sumber ekonomi. Hewan pun dapat berkelahi karena perebutan sumber ekonomi. Dimensi irrasionalitas manusia, yang dalam hal ini dipersamakan dengan naluri kehewanan, begitu digarisbawahi, tanpa menyebut-nyebut aspek moralitas dan religiositas yang tidak dimiliki oleh kelompok hewan.

3.      Pola pemikiran keagamaan islam yang bercorak relatively absolute
       Menarik catatan Dale Eikelman ketika memberi komentar tentang silang pendapat di lingkungan dalam umat islam yang berujung pada konflik. Sangat bisa jadi bahwa isu adanya clash of civilization antara barat dan timur ( islam dan konfusionisme) tidak bakal terjadi, tetapi yang sangat dikhawatirkan dapat terjadi adalah clash of civilization from whitin. Yakni pertentangan pendapat dan ide-ide yang diwakili oleh para pikir lapis pertama berhadapan langsung dengan pola pikir keagamaan lapis kedua yang kemudian berubah menjadi benturan dan bentrokan fisik serta kekerasan sosial yang meluas. Jika ini terjadi, tidak tertutup kemungkinan untuk menambah dan meluas ke wilayah clash of civilization seperti yang diungkapkan oleh samuel huntington.

D.    Catatan Kritis
       Mendalami isu-isu yang terkait dengan filsafat ilmu-ilmu keislaman rupanya tidak hanya terhenti pada level teoritis dan abstrak semata. Jika kajian itu dikemas dengan bagus secara metodologis dengan dilengkapi kerangka teori dan berbagai pendekatan yang interdisiplin dan multi disiplin maka diskursus tersebut akan mempunyai dampak langsung terhadap praktik sosial keagamaan islam. Ia akan melatih, memupuk dan membentuk nalar kritis terhadap realitas pola perilaku umat islam dimanapun mereka berada. Nalar komunal yang beraroma politis memang selalu menghindardari diskusi filsafat ilmu. Hal itu terjadi sejak era plato aristotle hinggan john rawl dan gadamer, sejak al- farabi, ibn rusdh, mulla sadra, sampai fazlur rahman, abib al jabiry, hasan hanafi dan seterusnya. Ada baiknya jika agenda reformulasi dan rekontruksi filsafat ilmu keislaman perlu dikedepankan terlebih dahulu, sebelum melangkah ke wilayah ilmu-ilmu keislaman terlebih dahulu dan tidak hanya puas dan berhenti disitu, tetapi dilanjutkan dan diakhiri dengan filsafat imu-ilmu keislaman agar supaya dapat utuh dan komprehensif dalam melihat persoalan keagamaan dan keislaman sekaligus.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar